Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Berbincang Hingga Dini Hari

Obrolan ini makin serius saja. Kita tak lagi bicara soal diri sendiri, melainkan banyak pasang mata. Kita tak lagi mengupayakan senyum sendiri, melainkan tawa dari banyak kepala. Kita, sudah saatnya.  Masih kuingat saat bayi pertama kita lahir dan terbesit sebaris kalimat dalam pikiranku, bahwa dia adalah pemersatu. Dia yang membuatku harus serius dengan masa-masa hidupku sejak saat itu. Dia yang membuatku tak boleh main-main lagi dalam mempertimbangkan sesuatu.  Kini, mereka sudah tidak lagi satu. Bayi-bayi lain terlahir dan menggenapi. Kamar tidur kita menjadi ramai sebab terisi lebih dari hanya satu anak saja. Kita terlalu berbahagia untuk merayakan ini setiap hari. Aku dan kamu menjadi selalu membicarakan hal-hal hingga dini hari. Terima kasih, itu saja yang ingin kuutarakan. Atas idemu untuk senantiasa memperjuangkan. Atas sikapmu untuk senantiasa bertanggung jawab. Atas semua yang kamu upayakan untuk senantiasa bertahan.  Kita sudah sejauh ini. Maaf, bila seringkali...

Ah, Bodoh Sekali

Lantas apa lagi yang harus kulakukan bila menjadi sempurna untukmu saja tidak cukup? Ah, bodoh sekali. Rupanya bukan aku yang kau harapkan.  Lantas apa lagi yang harus tak kudengarkan bila menuruti kemauanmu saja tidak cukup? Ah, bodoh sekali. Rupanya bukan pelukku yang kau rindukan.  Diam-diam langkahku menuju padamu tanpa suara, agar kau tidak terganggu dan tak menyadari betapa cinta ini terlampau besar.  Ah, bodoh sekali. Rupanya upayaku untuk tak mengusikmu pun tak berbuah manis.  Kamu tetap saja mengharapkan hal lain, bukan kesempurnaan yang kutunjukkan selama ini. Ah, bodoh sekali....  Tambung, 14:22 WIB (Inspiration: Bernadya - Kata Mereka Ini Berlebihan)

Perasaan Ini

Aku takkan marah atas datangnya perasaan ini Namun, aku akan memprotes diri sendiri bila sampai berbuat lebih padamu Aku takkan menyesal memiliki perasaan ini Namun, aku akan menyumpahi diri sendiri bila sampai melangkah jauh terhadapmu Aku bukan siapa-siapa bagi kamu Dan, rasanya juga takkan pernah menjadi siapa-siapa Hanyalah helai daun kering dari ribuan dedaunan gugur yang diterpa angin Demikian adanya, nyaris tak dapat diperhitungkan Aku takkan berupaya keras mengusir perasaan ini Namun, aku pun harus mampu menempatkan koordinatku hingga tidak dekat denganmu Bila kamu hendak tahu apalah alasannya, tentu saja kamu pun mudah menjawabnya Kita adalah sepasang (kita) yang melengkapi orang lain Aku bukan denganmu, kamu pun bukan denganku Tambung, 14:05 WIB

Saya Tidak Berjanji Untuk Selalu Mengingatnya

Saya tidak berjanji untuk selalu mengingatnya. Namun, saya juga tidak berjanji untuk melupakannya begitu saja. Jika dibilang perih, tentu. Bahkan, seringkali mendadak meneteskan airmata tanpa sengaja. Entah apa karena redaksinya yang menyakiti, atau manusia itu yang memang tak henti mencaci. Di bagian mana yang paling sakit, yang jelas hinaannya tidaklah sama dengan kenyataan.  Akan tetapi, membela diri pun terasa tidak berarti. Saya tidak ingin membaikkan diri sendiri, lalu berlagak sebagai korban dan menjatuhkan kesalahan padanya.  Saat ini, saya hanya berharap, hinaan itu kembali pada dirinya.  Dia merasakan apa yang dihinakan dari mulutnya.  Dia melalui hal yang buruk yang dilontarkannya.  Tambung, 03:54 WIB

Come and Go

Mendadak terbangun karena kamu datang, dalam bentuk ingatan Seketika saja terjadi tiba-tiba, dalam bentuk kerinduan Tidak ada yang istimewa, semua berjalan sederhana Sekaligus sakitnya pun, selalu saja sama Aku telah mencari ragam cara untuk benar-benar sembuh dari segalanya Ketika ramai, kamu pergi, tidak ada ingatan apa pun yang hadir Menjalani hari-hari seperti biasa penuh bahagia Ketika sendiri, itulah situasi yang paling berbahaya Kamu datang, bukan hanya sebagai ingatan Sekaligus menyesakkan, sampai cemas bagaimana harusnya memeluk hati sendiri Terasa sakit, dan aku tahu... Rupanya penyakitku belum juga mereda. Ditulis 08 Desember 2024 Tambung, 23:48 WIB

Lagak

Aku hanya akan kalah bila terus mendengarkan lontaran orang yang tidak menyejukkan. Aku hanya akan sakit bila tetap saja membuka telinga dari ucapan-ucapan yang tidak baik.  Aku menyerah saja... Menutup telingaku dengan sepasang tangan, lalu meminta mata ini untuk mengatup sendiri. Diam. Tidak berkomentar apapun. Biarkan mereka bicara hingga lelah, dan aku akan terus melangkah tanpa perlu menghiraukan lagi.  Kadang, aku merasa perlu tetap bersembunyi dari keramaian, untuk diam-diam menangis. Namun, aku sadar bahwa manusia memang perlu menangis. Sesekali. Tidak apa jika dia memperlihatkan tangisannya, tanpa perlu terus berpura-pura tertawa.  Jadi, bolehkah jika aku tak sembunyi lagi?  Dari rasa sakit atas lontaran buruk itu? Aku lelah, bila senantiasa tertawa dan berlagak baik-baik saja.  Tambung, 00.00 WIB

Perlahan

Setiap hari aku menyadari bahwa kamu tak bisa termiliki, namun setiap hari pula aku menyadari perasaan ini masih ada: aku menyayangimu. Setiap hari aku berpikir bagaimana harusnya menghentikan ingatan dengan cepat, memulihkannya kembali normal, supaya bukan kamu saja yang kupikirkan, melainkan hal yang lebih penting.  Namun, kamu juga cukup penting untuk tidak terlupakan. Setiap hari aku berharap tidak akan ada lagi kecemasan yang membuatku harus mencarimu, meski sesungguhnya kamu tidak apa-apa. Aku khawatir, jangan-jangan kamu sengaja pergi. Padahal, pergi itulah yang seharusnya kita lakukan berbarengan. Perlahan...  Ketika aku mulai tidak memberatkan apapun yang hati rasakan, nyatanya lega ini kian lahir. Meluruhkan ingatan, kecemasan, juga kekhawatiran.  Perlahan...  Ketika aku mulai mengikhlaskan untuk menerima apapun yang Tuhan takdirkan, nyatanya lega ini kian lahir. Melupakan betapa pilu rasanya mencintai sekaligus merindukanmu sepanjang waktu. Perlahan... Aku...

Beralih

Mari beralih dari bersenang-senang menjadi sekadar senang Aku tidak ingin memiliki teman yang mendadak jadi musuh, pun tak ingin membenci sikapmu Tolong bawa pergi hatimu, jangan lagi mendekap perasaanku  Aku tak bisa terus-menerus menjadi bodoh dengan kamu yang mendadak datang, lalu pergi berhari-hari Aku tak ingin berulang-ulang menempatkan diri hanya di sudut hatimu, tanpa menjadi prioritas Izinkan aku pergi, biarkan kita beralih menjadi teman yang saling menyenangi, namun tidak lagi bersenang-senang di atas kenyataan yang tak mungkin dipungkiri Mari kembalikan jabat tangan kita menjadi hangat tanpa perlu saling memeluk kesepian Sebab sebenarnya, kita tak benar-benar sunyi Orang-orang yang sengaja tak kita ingat, mereka ada untuk menyemangati Orang-orang yang sengaja tak kita ingat, mereka ada untuk menawarkan senyum Orang-orang yang sengaja tak kita ingat, mereka ada untuk menabur cinta Kita sajalah yang ego...  Jadi, mari beralih... Aku terlampau letih untuk berpura-pura ...

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.

Berdamai Tidaklah Mudah

Aku lebih mudah tertawa di depan banyak orang daripada menangis sendirian Sering berpikir bahwa menangis adalah hal yang membuang waktu Tetapi, ketika segalanya tiba untuk meledak Maka menangis dalam hitungan detik tidaklah cukup, tak jarang iramanya mirip anjing kesakitan Sesak dan penat menjadi komponen homogen yang tidak terpisah Aku lebih mudah berdamai dengan keadaan daripada mengeluh karena lelah atas semuanya Sering berpikir tentang kenyamanan perasaan orang lain daripada kesenangan sendiri Tetapi, ketika segalanya tiba untuk berdentum Maka berteriak tidaklah cukup untuk menyelesaikan penuhnya kekesalan dalam hati Segalanya jadi rapuh, dan aku hanya menginginkan sebuah pelukan tanpa dikomentari Kadang aku berpikir, kenapa harus sekompromi ini? Sementara aku punya pendapat sendiri Tapi, demi berdamai dengan keadaan, demi tetap mendinginkan situasi Tetap saja yang kupilih hanya tersenyum  Hingga orang selalu menganggapku manusia tanpa masalah Saat itu kusimpulkan, bahwa berdam...

Hei Laut

Hei laut... Aku hendak mengayunkan surat botol kali ini...  Untuk seseorang yang tak mampu kusebutkan namanya...  Untuknya yang masih terkenang dalam hati tanpa berhenti... Aku mengingatnya... Banyak-banyak... Hei laut...  Aku mengerti surat ini takkan pernah sampai pada penerimanya...  Aku hanya iseng, mengusik ombakmu yang teratur... Memberi ruang pada dadaku sendiri untuk tumpah di pangkuanmu...  Rasanya sesak... Kenapa bisa begitu, ya? Seperti harmoni yang menggema sekaligus keras menghantam bagian diriku di sini... Iya, di sini... Di tengah-tengah hati...  Padahal aku tak pernah menyengaja untuk menyimpan ingatan tentangnya... Namun, ia tak lelah juga untuk tinggal. Tetap tinggal di sini...  Iya, di sini... Di tengah-tengah hati... Hei laut...  Jika ombakmu setenang itu... Lantas kapan pikiranku bisa setenang dirimu? Ditulis, 22 November 2024 Tambung, 18:20 WIB

Dekap Dirimu Sendiri

Untuk kamu yang sudah bertahan sejauh ini Untuk kamu yang sedang berada di fase terlelah Untuk siapapun yang telah berupaya namun masih saja gagal Dekaplah dirimu yang hebat itu,  Kamu perlu tahu, dirimu luar biasa. Kamu capek, tapi tidak menyerah... Itu lebih dari segalanya...  Tuhan tak pernah menempatkan situasi saat ini kecuali sebab memang yang terbaik Terluka diiringi suka, terjatuh diiringi semangat untuk melanjutkan kehidupan Tuhan selalu baik...  Dan, kamu selalu hebat...

Dekap

Bersamamu adalah hal paling mustahil sekaligus ajaib untuk terjadi. Aku tak pernah yakin akan menjadi takdirku. Bukan menyerah, namun logikalah yang bicara, untuk tak terus-menerus menggila.  Bagaimana pun inginku memintamu dalam doa, aku berhenti pada kata 'semoga kau baik-baik saja'. Sungguh, harapan sederhana, namun terasa menyakitkan.  Rupanya, aku belum benar-benar sembuh dari mengikhlaskanmu.... 

Rinn dan Martin (Mini Cerpen #2)

  Martin menimbang-nimbang, bagaimana seharusnya ia menjawab pertanyaan Rinn barusan? Bukankah harusnya mudah, segampang dirinya melontarkan kalimat yang sama? "Martin...," panggil Rinn lirih namun cukup membuat lelaki itu berhenti melamunkan jawaban.  "Aku tidak tahu." Sesingkat itu ucapannya. Padahal tidaklah sesederhana yang terdengar. Martin cukup mampu memahami hatinya sendiri, betapa debaran jantungnya berdegup lebih cepat setelah bertemu lagi dengan Rinn. Pria itu tahu, barangkali ia masih cinta. Namun, apakah harus dibahas hari ini juga? "Kalau kau tidak tahu, maka aku akan menjawab hal yang sama," imbuh Rinn setelahnya. "Kenapa begitu?" Martin balik menyahut. "Sebab aku juga tak ingin buru-buru membahas ini. Mari saling hidup seperti biasanya, selayaknya kita berteman tanpa perlu berjarak lagi."  Sejenak Martin seolah merenungkan kalimat Rinn barusan. Ia merasa gadis itu benar, tak perlu menautkan situasi pada perasaan mereka b...

Rinn dan Martin (Mini Cerpen #1)

"Berjanjilah kau tidak akan pernah selesai menjadi temanku. Kau akan selalu ada untukku. Dan, aku tetap akan menjadi penting bagimu." Rinn melajukan bicaranya seolah tergesa-gesa, padahal teman di sampingnya, Martin, tidak kemana-mana.  Ia menyiku Martin dengan lengannya yang terlipat. "Berjanjilah, Martin!" desaknya lagi. Karena Rinn begitu penting bagi Martin, tentu saja ia berkata, "Aku berjanji." Namun, sepuluh tahun nyatanya bukan waktu yang mudah untuk membuat hubungan mereka yang terputus selama itu kembali seperti biasanya. Rinn dan Martin memang berada di meja yang sama, namun menyesap kopi masing-masing, terdiam cukup panjang sambil mencari kalimat yang tepat untuk membuka pembicaraan.  Sekelebat ingatan tentang masa kecil mereka yang dihabiskan bersama, cukup membuat Martin tak perlu bicara dulu, selain sambil sesekali menyudutkan ekor matanya pada gadis yang duduk tepat di hadapan pria itu.  Sampai kemudian, Rinn memulai dengan bertanya, "...

Mari Sampaikan Rindu Kita

Mari sampaikan rindu kita pada angin yang berdesir Membiarkannya berkabar tentang cinta Yang takkan pernah singgah pada tanah serupa Mari sampaikan rindu kita pada angin yang berdesir Melewatkannya tertiup ke segala arah Menyadarkan bahwa di bawah langit yang sama Kita tetap saja tinggal di rumah berbeda Kamu dan aku seperti helai daun pepohonan Yang sekali waktu akan gugur Terlepas dengan sendirinya Pelan-pelan menjauh  Tanpa perlu merasa pilu  Ditulis, 10 November 2024 Tambung, 09:56 WIB

Kamu...

Terima kasih untuk selalu ada... Kamu dan upayamu... juga doamu...   Terus genggam diri ini... Sebab kerap merasa ragu...  AKU MENCINTAIMU...  Ditulis, 10 November 2024 Tambung, 17:00 WIB

Pulang, Yuk!

Hai, terima kasih untuk diri sendiri. Atas segala pergulatan yang sudah kamu lewati. Atas segala persoalan yang menguras pikiranmu. Sering kamu berdebat dengan isi kepala sendiri hingga pening dan lekas pergi, namun sejauh ini kamu sudah bertahan dan kebal dengan masalahmu. Kalau bukan karena Tuhan, lantas siapa yang membuatmu seperti ini? Pengalaman? Itu juga kan dari Tuhan. Ah, rupanya Allah baik sekali. Memberi kita masalah, tapi menenangkan hati untuk berpikir jernih dan menemukan solusi tanpa perlu panik. Berhentilah memikirkan omongan orang lain. Aku tahu kamu salah, kok. Dalam hal apapun, kamu tak pernah benar-benar paling benar, tentu ada salahnya. Tapi, penting sekali untuk tidak menanggapi.  Ingat saja keluargamu. Mereka yang menanti dan menyambut kedatanganmu setiap sore sambil berlari dan membentangkan tangan minta dipeluk. Iya, anak kamu!  Mereka yang tatkala mendengar deru motor datang, lekas membuka jendela dan memastikan bahwa kamu telah benar-benar pulang. Iya...

Secangkir Sejuk

  Aku tak ingin lagi memikirkan apapun tentang kamu,  bukan karena membenci, namun memilih kehilangan daripada terus-menerus terluka.  Aku bukan lagi hendak menghindar dari kamu, namun mencoba berada di titik terjauh, sebab mendekatpun bukanlah solusi dari rindu.  Di tanganku, hadir secangkir air sejuk. Di tanganmu, hadir secangkir air yang sama. Mari saling teguk, lalu bernapaslah penuh. Sejauh ini kita sudah cukup pilu, jangan lagi cinta melukaimu! Ditulis, 03 November 2024 Tambung, 18:54 WIB

Papa

  Papa, aku memelukmu dalam ingatan Entah bagian mana dari siluetmu yang kurekam Aku hanya merasa dekapanmu begitu hangat Papa, aku menyebutmu dalam sajak doa Kepada Tuhan kusebut lembut nama kecilmu Semoga kelak kita memiliki waktu untuk bercengkrama Papa, aku mengenangmu lewat aksara Lembar demi lembar puisi kupersembahkan Segala isinya tentang harapan baik buatmu  Papa, telah sekian tahun hidup tanpamu Bukan berarti kau tak ada di hatiku Puteri kecil yang dulu kau raih dengan sepasang tangan Barangkali saat ini tak lagi mampu kau gendong di ayunan Aku telah remaja, dan kau masih menjadi cinta pertama Selamanya... Demi puterimu... gadismu...  Datanglah untuk merangkulku sekali saja Ditulis 28 Oktober 2024 Tambung, 21:31 WIB

Debat Kecil

Seringkali berdebat Justru sebab saling sayang  Ekspresi cinta sederhana  Setelahnya, mereka tertawa lagi Melempar mainan Memukul kecil Menangis sesaat Setelahnya, mereka tertawa lagi Berebut lego Bertengkar menarik Beradu celoteh Setelahnya, mereka tertawa lagi Sebutan keren untuk perannya adalah: 'Anak-anak' Duko Timur: 05:29 WIB

Keluarga (Kita)

Tidak untuk hari ini ataupun selanjutnya Berlalulah Redalah Pergi sejauhnya Biar perlahan luka menutup Dan sembuh dengan sendirinya Sepasang tangan lain sedang menunggu Membuka selebarnya Dan berharap kamu memeluk  Lantas berikan dekapan terhangatmu Untuk dia yang sepenuh hati mencinta Bingkai saja kenangan Manis diingat, namun jangan terulang Pulanglah Pada tempat yang pantas kau sebut 'rumah' Ditulis 26 Oktober 2024 SMAN 2 Pamekasan, 12:20 WIB

Lepas

  Bahkan derap langkahmu teramat kukenali Aroma rokok yang lekat Punggung yang tirus itu Mesti kulepas Kamu dan aku Adalah sepasang tuan rumah dan tamu Betapapun nyaman bersama Aku harus berpamitan pulang Sayangnya, hatiku tertinggal di sana Padamu....  Ditulis, 19 Oktober 2024 Tambung, 16:41 WIB

Pernah

  Aku pernah menyebutmu dalam doa Kepada Tuhan ku bertutur Untuk melenyapkan kebimbangan Aku pernah menghina diri sendiri dan berkata bodoh Semata-mata sebab ingin meluruhkan pilu Dikala berkendara yang harusnya tenang Aku berteriak setengah memaksa Tuhan Agar melepasmu dari ingatan Aku pernah demikian, karena kamu...  Ditulis 19 Oktober 2024 Tambung, 16:35 WIB

Tangan Kecil

  Perjalanan menuju sekolahnya adalah momentum yang mengharukan. Sebenarnya dia hanya akan diam, tidak bicara kecuali kuajukan pertanyaan. Namun, hal sederhana yang dilakukannya sepanjang jalan adalah memainkan kain hijabku.  Tanpa disadari, itu membuatku sungguh bermakna sebagai ibunya.  Hati mendadak melambung dan terharu, menganggapnya masih menjadikanku wanita paling difavoritkan.  Anakku, maafkan ibu.  Bila sejauh ini belum mampu menjadi ibu yang baik bagimu.  Maafkan...  Ditulis, 23 Oktober 2024 Tambung, 03:34 WIB

Menyesal dan Bersyukur

  Sepasang kata terlontar darimu: "menyesal dan bersyukur" Atas apa-apa yang kita rasakan, sekarang Bahkan, sekadar duduk di hadapanmu saja membuatku bingung Segala rencana di kepala seketika lebur Aku telah berkata jujur Akan kegilaan beberapa hari ini Bagimu, barangkali terasa tak masuk akal Bagiku, lebih pantas dibilang tidak bernalar Tolong sebut namaku dalam doamu Agar hati ini kembali membaik Sungguh-sungguh ku memohon Setidaknya Tuhan mendengar doa yang sama dari sepasang manusia Bukan lantaran aku saja yang kuat berharap Menyesal dan bersyukur, dua hal yang juga kurasakan. Percayalah, melihatmu tanpa tendensi rasa apa pun Adalah keinginan terbesarku: sekarang! Ditulis, 21 Oktober 2024 Tambung, 15:10 WIB

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Cengkrama Siluet

Sepasang siluetmu dan dia duduk di sudut taman Mengangkat segelas lemon tea dan bersulang Merayakan kerelaan Mempermalukan diri sendiri di masa lalu Mengapa bisa sebodoh itu? Sepasang siluetmu dan dia saling berjabat tangan Bertukar gelas dan bersulang Merelakan perpisahan  Kalian saling menepuk pundak Menguatkan diri sendiri di masa kini Mengapa bisa sekuat itu? Dia bilang, aku mencintaimu dan memaafkan Kau bilang, aku mencintaimu dan memaafkan  Kalian sama-sama bilang, 'Mari pulang!' 'Cengkrama kita sudah selesai'.  Ditulis, 17 Oktober 2024 Tambung, 04:49 WIB

Radar Darimu

Nampaknya selama ini aku tak benar-benar memahami radar darimu: untuk tidak sampai ada rasa! Anehnya, selepas kau kirimkan radar itu, justru langkahmu mendekapku lebih palung. Membuatku bingung. Gilanya, setelah itu kau lempar jauh kebimbangan ini seakan tak ingin dekat lagi. Aku atau kamu yang cemas? Tak mampu menghadapi isi hati sendiri? Sempat kutenggelamkan seluruh kepala agar ingatan itu hilang. Nyatanya kamu ikut terbenam, wajahmu berdiam di dasar. Tetap kucoba untuk tenang. Aku hanya bisa memaafkan pelan-pelan.  Menerima keadaan ini sendiri, merevisi semua tentang kamu. Tinggal menunggu waktu, sampai kelegaan itu lahir, dan kuanggap kamu bukan manusia jahat lagi.  Ditulis 17 Oktober 2024 Tambung, 04.40 WIB

Cara Berbahagia

  Cobalah menuliskannya dengan hati yang luas. Setelah memaafkan, maka biarkan ia pergi dengan tenang. Tuliskan semua kenangan kalian, namun jangan beratkan langkahnya. Keputusannya ... Doakanlah ...  Itulah satu-satunya cara membingkai masa lalu tanpa perlu menyesal. Sesekali tak apa jika kamu ingin menangis.  Rindu memang tak memiliki massa, namun seringkali menyesakkan.  Tetapi ingat, hiduplah sekali dan untuk memaafkannya berkali-kali. Cobalah mendengarkan lagu-lagu bahagia, agar senyummu kian rekah. Kamu dan dia harus baik-baik saja.  Tak apa jika hanya sebagai teman, paling tidak kamu masih memilikinya dengan cinta, bukan sebab benci yang membabi buta. Jika kalian pernah saling cinta, maka hindarilah patah hati sebab dendam terhadapnya.  Tambung, 21.20 WIB

Jangan Berikan Hatimu Kalau Hanya Untuk Dilukai

"Jangan berikan hatimu, kalau hanya untuk dilukai!"  Arshita menegurku persis saat kami berpapasan sambil berucap kalimat pendek itu. Seakan dia tahu, ada lubang yang baru saja terbentuk di hati ini. "Apa maksudmu?"  "Aku tahu kamu," jawabnya lagi. "Aku tahu kamu menyukai pria itu, kan?"  Sahabatku itu tengah mengarahkan telunjuknya pada seseorang yang duduk di dekat taman kantor kami, sambil mengisap sebatang rokok. Ah, wajah sederhana itu yang sekian minggu ini menjelma hantu di kepalaku.  "Tuh kan?" Arshita kembali bicara. "Lihat wajah kamu!" katanya sambil menyodorkan cermin.  "Kenapa?" balasku bertanya pula. "Make up aman, kok! Nggak ada makanan yang nyangkut di gigi juga, Shit!" Aku mencoba bercanda. "Nggak usah sok ngalihkan perhatian, deh, Nir! Lihat ekspresi teduh itu, wajah kamu yang menatapnya penuh pengharapan."  "Nggak, kok!" Aku mengelak. "Sepuluh tahun sahabatan sama ...

Maha Setia

  Sebenarnya, nyaris setiap orang yang melangkahkan napasnya, pernah merasa ragu. Entah ragu untuk memutuskan masa depannya, cita-citanya, mengejar mimpi atau tidak, memilih keyakinan itu atau yang lainnya, mencintai atau membenci dan menghindarinya. Semua keputusan yang sempat membuatnya bimbang.  Bahkan, sebagian orang pun terlampau jauh menjejalkan kakinya pada makna yang salah, hingga jatuh dan terjerembap dalam. Ada yang memilih kembali, ada yang tak henti menahan sedih dan bertahan dalam kondisi yang sama.  Belakangan ini, lantas pernah berpikir, bahwa sebenarnya kita tetap harus setia pada satu Tuhan: yang Maha Tahu atas kerisauan, Maha Menolong ketika jatuh, Maha Melimpahkan ketenangan dikala rapuh, pun Maha Memberi bahagia yang tidak ternilai.  Sebenarnya, Tuhanlah satu-satunya jalan pulang. Tidak ada tujuan lain selain Dia.  Nyatanya, berharap kepada selain Dia hanyalah memberikan kecewa.  Tuhan, jika bukan karena Kasih-Mu, mungkin aku sudah tak t...

Waktu Telah Jauh Berlalu

Warna itu sudah berbeda. Dulu dan kini, masih menggenggam warna yang cerah, namun telah berbeda peran dan makna.  Aku mengisi hari-hariku dengan kamu, dulu. Aku mengisi hari-hariku dengan dia, kini.  Hatiku sama penuhnya, cintaku sama tingginya, semestaku sama indahnya. Namun, untuk momentum yang berharga sama pula, izinkan aku mengingatmu lewat tulisan ini.  Kamu yang dulu meneleponku tepat di pukul 12 malam. Mengucapkan selamat ulang tahun dengan manis dan lirih. Kamu yang mengudarakan doa tepat di pukul 12 malam belasan tahun lalu. Andai saja waktu bisa kutarik mundur, akan kutahan detik itu, untuk mengemasmu dalam diam, agar kau tidak kemana-mana. Apalagi menghilang tiada kabar, hingga saat ini.  Sekarang, aku sudah lebih terbang dari tahun lalu. Sayapku sudah membentang dan sepasang utuh. Hidupku dilengkapi dengan lelaki yang kauharapkan dapat mendampingiku penuh cinta.  Doamu terkabul, A'.  Ternyata aku baik-baik saja tanpa kamu, meski sisi lain dari ...

Bukan Puisi Cinta (Untuk Tris)

Tris, aku memikirkan orang lain malam ini.  Kemana bayangmu yang selama ini duduk tenang?  Kenapa berganti dengan siluet wajah lain yang justru bertahan di benak? Tris, aku menginginkan orang lain malam ini.  Kemana janji yang kita rajut dulu? Kenapa harus berganti dengan ingkar yang berkali-kali? Tris, aku mengerti hanya kamu tujuan awal dan terakhirku.  Aku sangat memahami betapa dulu kita berikrar untuk saling setia.  Namun, Tris, izinkan malam ini saja aku gelisah karena seseorang yang belum kukenal lama. Izinkan, malam ini saja.  Tris, aku berani bersumpah untuk tetap di sisimu. Melawan ragu ini sendiri. Sampai kembali yakin bahwa kamulah satu-satunya sandaran paling nyaman.

Tetap Memilih Pulang

Beberapa hari lalu, 03 Agustus 2024, saat tiba sekitar pukul 4 sore di SPBU Utama Raya, mendadak terpikir untuk tidak melanjutkan niat bermain di pantai jelang senja, melainkan berlari menuju tepian jalan menunggu bus datang. Dalam kepalaku hanyalah satu: AKU HARUS PULANG! Kedua mata ini sempat berlinang, memikirkan apakah masih ada waktu di kemudian hari untuk menatap sepasang malaikat yang telah membesarkanku? Oleh karenanya aku tetap memilih pulang, saat itu juga.  Terasa sangat tidak sabar menunggu bus yang tidak juga datang. Sementara sudah membuat janji dengan adik, untuk dijemput di titik tertentu, pun tak usah mengabarkan pada malaikatku, bahwa anak gadis yang kini jugalah seorang ibu, akan pulang tiba-tiba.  Entah bagaimana harus menjelaskannya. Rindu sebab keadaan kami yang tak lagi tinggal bersama membuat sedikit saja kesempatan bertemu begitu bermakna. Aku merasa kesempatan itu tak boleh disia-siakan, sekalipun tak sampai 24 jam bertemu dan menatap mereka, juga han...

Jauh Itu Baik

Kita adalah sepasang hati yang tak dapat saling bertumpu. Semua berakhir sebagai tatapan penuh makna, tanpa perlu mendekap erat.  Aku menyayangimu, mendoakan hal baik-baik buatmu, memikirkanmu lama-lama, namun tidak lebih dari itu. Semua sudah berbeda.  Apa kabar punggungmu yang hangat itu? Apa kabar sepasang kaca mata yang menutupi bening lensamu? Apa kabar rambut lurus dengan tinggi nyaris 180 cm itu? Apa kabar langkahmu yang tanpa suara itu? Apa kabar sepasang tangan yang dulu pernah menuntunku menyeberang jalanan ramai?  Aku sungguh ingin mengingatmu malam ini, tanpa perlu bersalah dan berdosa.  Aku sungguh ingin memeluk ingatan tentang kita malam ini, tanpa perlu merasa memiliki kamu.  Aku sengaja pergi, agar kamu tidak bimbang.  Dulu, kamulah yang memintaku menjauh. Kamulah yang membuatku membenci semua keputusan aneh itu. Kamulah yang merasa tak pantas melanjutkan hubungan kita.  Aku membenci semua pendapatmu. Sebab jatuh cinta padamu tak perlu ...

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Engkau (Satu-satunya)

  Aku menitikkan air mata tanpa perlu membantah perdebatan soal ‘pulang’ lagi. Aku memang sudah seharusnya pulang ke pemilikku sekarang. Tanpa membawa apa pun lagi, kecuali kepasrahan.   Sudah lama rasanya tidak terbaring di tempat yang semestinya. Di dekat Engkau, Rabb.  Maka sebelum aku benar-benar pulang dan melangkah dari awal, izinkan kutuang kembali luka dan kesedihan di hati ini, biarkan dia tinggal di titik yang tak boleh lagi kurangkul.   Tuhan, rasanya mencintai seseorang begitu dalam itu sangat membahagiakan. Lebih-lebih bila berbalas. Tak pernah menduga bahwa kisah tentang kecintaan ini akan berakhir hanya dalam hitungan sepuluh tahun saja.   Aku pikir, dia sama setianya seperti Engkau. Ternyata salah. Sama sekali tak ada yang bisa menandingi kesetiaan-Mu padaku. Tak satupun manusia.    Aku menelan luka perlahan-lahan, pahit yang teramat dalam, namun tetap saja kutelan hingga hati ini rapuh juga. Mulai dari lidahnya yang kelu...

Siang yang Hening

Terik sudah berlalu Tersisa desau angin dan derak udara yang tak lagi membakar Menurun sudah temperaturnya  Sore sesaat lagi datang Kami masih di sini Tertidur lelah lalu pulas Belum lagi ingin beranjak Meski waktu mengajak untuk pulang Kami masih di sini Terbaring ingin lepas penat Menikmati tenang  Sambil menunggu cahaya meredup Ketika itu, kami akan kembali pada 'rumah' Pulang... Untuk tenang yang sesungguhnya...  Perpustakaan SMADA, 13.34 WIB

Sepagi Ini Aku Sudah Merindukanmu

Waktu terus berjalan, namun pikiranku tidak kemana-mana. Haluannya tetaplah sama, mengingat kamu.  Aku sendiri cemas pada situasi yang tak mampu kukendalikan ini, saat harus mengulas senyum, barisan canda dan tawa, juga tuturmu yang beraroma cinta.  Barangkali aku memang sudah kalah pada janji sendiri untuk tak lagi merindukan kamu.  Padahal, pagi sedang sibuk-sibuknya. Padahal, mentari sudah panas-panasnya. Padahal, angin tak lagi mendesau ramah. Aku khawatir pada isi kepala sendiri, betapa penuh dengan siluetmu saja.  Kamu, apa kabar?  Bukan aku tak berani bertanya langsung, hanya tak ingin membuatmu dalam masalah. Ketika aku masih sendiri, kamu bahkan lebih dari sekadar berdua dan bersama. Hidupmu sudah sempurna.  Aku juga meminta untuk tak lagi merasa bersalah, pada hidupku yang jelas bukanlah tanggung jawabmu. Aku bahagia, mengingatmu dengan caraku sendiri. Memaknaimu dengan solusiku sendiri.  Sepagi ini, aku memang merindukanmu. Namun, saat ini a...

Menukar Belulang

       Aku menjadi tahu rasanya menukar tulang rusuk ini menjelma sandaran kuat bagi Nirwana, puteriku. Setelah kami memutuskan untuk menjalani hari-hari tanpa ayahnya lagi.       Sungguh, aku sudah memaafkannya. Tak berguna bila harus menabung dendam yang pada akhirnya akan meledak sebagai kebencian tak terperi. Nir yang selalu menyadarkanku bahwa tidak bersama ayahnya, bukan bermakna tak bisa mengampuni salahnya.          Setelah hidup dan tinggal hanya berdua, maka satu persatu rencana masa depan mulai direparasi ulang. Aku menyusun kembali ibarat target kerja yang akan kukerjakan sendiri pasca berpisah dari mantan suami.      Beberapa hari lalu pun, dia sempat menelepon, "kamu apa kabar?" tanya Mas Pras dengan nada datar namun terasa begitu berat.      "Aku baik, Mas." Tanpa perlu bertanya balik, kujawab saja singkat.      "Nir gimana?"      "Baik." ...