Langsung ke konten utama

Perlahan


Setiap hari aku menyadari bahwa kamu tak bisa termiliki, namun setiap hari pula aku menyadari perasaan ini masih ada: aku menyayangimu.

Setiap hari aku berpikir bagaimana harusnya menghentikan ingatan dengan cepat, memulihkannya kembali normal, supaya bukan kamu saja yang kupikirkan, melainkan hal yang lebih penting. 

Namun, kamu juga cukup penting untuk tidak terlupakan.

Setiap hari aku berharap tidak akan ada lagi kecemasan yang membuatku harus mencarimu, meski sesungguhnya kamu tidak apa-apa. Aku khawatir, jangan-jangan kamu sengaja pergi. Padahal, pergi itulah yang seharusnya kita lakukan berbarengan.

Perlahan... 

Ketika aku mulai tidak memberatkan apapun yang hati rasakan, nyatanya lega ini kian lahir. Meluruhkan ingatan, kecemasan, juga kekhawatiran. 

Perlahan... 

Ketika aku mulai mengikhlaskan untuk menerima apapun yang Tuhan takdirkan, nyatanya lega ini kian lahir. Melupakan betapa pilu rasanya mencintai sekaligus merindukanmu sepanjang waktu.

Perlahan...

Aku mulai menyimpulkan, bahwa sesungguhnya menghadapi hatiku sendiri hanya butuh kepasrahan.


Ditulis 02 Desember 2024

Tambung: 04:36 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.