Langsung ke konten utama

Perlahan


Setiap hari aku menyadari bahwa kamu tak bisa termiliki, namun setiap hari pula aku menyadari perasaan ini masih ada: aku menyayangimu.

Setiap hari aku berpikir bagaimana harusnya menghentikan ingatan dengan cepat, memulihkannya kembali normal, supaya bukan kamu saja yang kupikirkan, melainkan hal yang lebih penting. 

Namun, kamu juga cukup penting untuk tidak terlupakan.

Setiap hari aku berharap tidak akan ada lagi kecemasan yang membuatku harus mencarimu, meski sesungguhnya kamu tidak apa-apa. Aku khawatir, jangan-jangan kamu sengaja pergi. Padahal, pergi itulah yang seharusnya kita lakukan berbarengan.

Perlahan... 

Ketika aku mulai tidak memberatkan apapun yang hati rasakan, nyatanya lega ini kian lahir. Meluruhkan ingatan, kecemasan, juga kekhawatiran. 

Perlahan... 

Ketika aku mulai mengikhlaskan untuk menerima apapun yang Tuhan takdirkan, nyatanya lega ini kian lahir. Melupakan betapa pilu rasanya mencintai sekaligus merindukanmu sepanjang waktu.

Perlahan...

Aku mulai menyimpulkan, bahwa sesungguhnya menghadapi hatiku sendiri hanya butuh kepasrahan.


Ditulis 02 Desember 2024

Tambung: 04:36 WIB

Komentar