Langsung ke konten utama

Berbincang Hingga Dini Hari




Obrolan ini makin serius saja. Kita tak lagi bicara soal diri sendiri, melainkan banyak pasang mata. Kita tak lagi mengupayakan senyum sendiri, melainkan tawa dari banyak kepala. Kita, sudah saatnya. 

Masih kuingat saat bayi pertama kita lahir dan terbesit sebaris kalimat dalam pikiranku, bahwa dia adalah pemersatu. Dia yang membuatku harus serius dengan masa-masa hidupku sejak saat itu. Dia yang membuatku tak boleh main-main lagi dalam mempertimbangkan sesuatu. 

Kini, mereka sudah tidak lagi satu. Bayi-bayi lain terlahir dan menggenapi. Kamar tidur kita menjadi ramai sebab terisi lebih dari hanya satu anak saja. Kita terlalu berbahagia untuk merayakan ini setiap hari. Aku dan kamu menjadi selalu membicarakan hal-hal hingga dini hari.

Terima kasih, itu saja yang ingin kuutarakan.

Atas idemu untuk senantiasa memperjuangkan. Atas sikapmu untuk senantiasa bertanggung jawab. Atas semua yang kamu upayakan untuk senantiasa bertahan. 

Kita sudah sejauh ini.

Maaf, bila seringkali aku rapuh saat kita bergenggam tangan. Aku ingin kuat sepertimu.


Duko Timur, 04:24 WIB

Komentar