Langsung ke konten utama

Berbincang Hingga Dini Hari




Obrolan ini makin serius saja. Kita tak lagi bicara soal diri sendiri, melainkan banyak pasang mata. Kita tak lagi mengupayakan senyum sendiri, melainkan tawa dari banyak kepala. Kita, sudah saatnya. 

Masih kuingat saat bayi pertama kita lahir dan terbesit sebaris kalimat dalam pikiranku, bahwa dia adalah pemersatu. Dia yang membuatku harus serius dengan masa-masa hidupku sejak saat itu. Dia yang membuatku tak boleh main-main lagi dalam mempertimbangkan sesuatu. 

Kini, mereka sudah tidak lagi satu. Bayi-bayi lain terlahir dan menggenapi. Kamar tidur kita menjadi ramai sebab terisi lebih dari hanya satu anak saja. Kita terlalu berbahagia untuk merayakan ini setiap hari. Aku dan kamu menjadi selalu membicarakan hal-hal hingga dini hari.

Terima kasih, itu saja yang ingin kuutarakan.

Atas idemu untuk senantiasa memperjuangkan. Atas sikapmu untuk senantiasa bertanggung jawab. Atas semua yang kamu upayakan untuk senantiasa bertahan. 

Kita sudah sejauh ini.

Maaf, bila seringkali aku rapuh saat kita bergenggam tangan. Aku ingin kuat sepertimu.


Duko Timur, 04:24 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.