Langsung ke konten utama

Jauh Itu Baik

Kita adalah sepasang hati yang tak dapat saling bertumpu. Semua berakhir sebagai tatapan penuh makna, tanpa perlu mendekap erat. 
Aku menyayangimu, mendoakan hal baik-baik buatmu, memikirkanmu lama-lama, namun tidak lebih dari itu. Semua sudah berbeda. 

Apa kabar punggungmu yang hangat itu? Apa kabar sepasang kaca mata yang menutupi bening lensamu? Apa kabar rambut lurus dengan tinggi nyaris 180 cm itu? Apa kabar langkahmu yang tanpa suara itu? Apa kabar sepasang tangan yang dulu pernah menuntunku menyeberang jalanan ramai? 

Aku sungguh ingin mengingatmu malam ini, tanpa perlu bersalah dan berdosa. 
Aku sungguh ingin memeluk ingatan tentang kita malam ini, tanpa perlu merasa memiliki kamu. 

Aku sengaja pergi, agar kamu tidak bimbang. 

Dulu, kamulah yang memintaku menjauh. Kamulah yang membuatku membenci semua keputusan aneh itu. Kamulah yang merasa tak pantas melanjutkan hubungan kita. 

Aku membenci semua pendapatmu. Sebab jatuh cinta padamu tak perlu penjelasan. 

Kini, aku mengerti mengapa kamu memintaku menjauh. Aku memahami mengapa kamu berlagak tak suka agar kebencian itu mengudara di hati. 

Barangkali sejak awal kamu memang sudah yakin, bahwa kita hanya tertulis sebagai kisah, bukan teman sejati hingga mati. 

Barangkali sejak awal kamu memang sudah menyadari, bahwa aku hanyalah sebaris kisah yang hadir sementara, bukan langkah yang harus beriringan hingga akhir. 


Bagaimana kabarmu saat ini? Bahkan, untuk sekadar menelepon pun sudah tak mampu lagi. Aku tak tahu bagaimana cara mengirim pesan pada nomormu yang sudah tak sama lagi. 

Bahagia, ya... 
Aku hanya mampu mendoakan yang baik-baik buatmu...
Selamanya... Sehatlah, kuatlah, bersenang-senanglah. Semoga kamu aman dalam dekapan Tuhan kita yang sama. Aku percaya, Dia sangat menyayangi aku dan kamu, dengan cara terbaik-Nya. 



(Tulisan ini diketik sambil mendengarkan lagu dari Cakra Khan - Salah Tapi Baik)


Tambung, Pamekasan. 
23.13 WIB






Komentar