Langsung ke konten utama

Engkau (Satu-satunya)

 


Aku menitikkan air mata tanpa perlu membantah perdebatan soal ‘pulang’ lagi. Aku memang sudah seharusnya pulang ke pemilikku sekarang. Tanpa membawa apa pun lagi, kecuali kepasrahan.  

Sudah lama rasanya tidak terbaring di tempat yang semestinya. Di dekat Engkau, Rabb. 

Maka sebelum aku benar-benar pulang dan melangkah dari awal, izinkan kutuang kembali luka dan kesedihan di hati ini, biarkan dia tinggal di titik yang tak boleh lagi kurangkul.  

Tuhan, rasanya mencintai seseorang begitu dalam itu sangat membahagiakan. Lebih-lebih bila berbalas. Tak pernah menduga bahwa kisah tentang kecintaan ini akan berakhir hanya dalam hitungan sepuluh tahun saja.  

Aku pikir, dia sama setianya seperti Engkau. Ternyata salah. Sama sekali tak ada yang bisa menandingi kesetiaan-Mu padaku. Tak satupun manusia. 

 

Aku menelan luka perlahan-lahan, pahit yang teramat dalam, namun tetap saja kutelan hingga hati ini rapuh juga. Mulai dari lidahnya yang kelu setelah milyaran kali berdusta, hingga langkah sepasang kakinya menemui kecantikan lain. Ternyata, aku bukanlah satu-satunya yang cantik dalam jiwa dia. 

Tuhan, pernah sekali dalam saat itu aku memutuskan meraih sebilah pisau kecil guna menumpulkan urat nadi, mungkin dengan napas yang berakhir, lukaku tak lagi membanjir.  

Namun, di detik itu juga Engkau selamatkan aku lagi. Kenapa Engkau begitu baik? 

Engkau menolongku dari putus asa, lahir lagi harapan bahwa setelah luka akan Kau siapkan keberkahan luar biasa.  

Kenapa Engkau begitu baik?

Aku mendadak malu pada-Mu yang kuabaikan, namun masih saja menjadi satu-satunya penolong. Apa Engkau sungguh masih menginginkanku hidup? Untuk bertahan, atau menyaksikan dia dan cantiknya yang baru? 

Tolong jangan tinggalkan aku, Tuhan. Aku tidak ingin diri ini gemelayut seperti angin tanpa pemilik. Tolong. Raih kembali sepasang tanganku, lantas tegakkan pula wajah sembap ini, untuk bisa tersenyum seperti sedia kala, meski dengan alasan berbeda.  

Aku memang perlu waktu untuk menerima segalanya. Mewaraskan akalku sendiri. Menolong harapanku lagi agar kembali bernyawa. Aku memang perlu waktu untuk pulih. Maka, jangan tinggalkan aku. Dan, jangan biarkan aku menangis hanya karena manusia yang sama. Dia, yang tak lagi menitikkan hatinya buatku.  

Tuhan, harusnya dari dulu aku percaya pada-Mu, untuk tak berharap pada manusia sebab akan mendulang kecewa. Harusnya sejak dulu aku hanya percaya pada-Mu. Harusnya meski berucap mencintai manusia itu, aku masih percaya pada-Mu, bukan mati-matian menduakan dan melupakan Engkau, pemilikku satu-satunya.  

Menyadari betapa sakitnya dilukai oleh dia, aku lantas berpikir, betapa sakitnya pula Engkau yang tak kuhiraukan.  

Maaf. Atas semua kejahatanku sejauh ini.  

Tolong peluk aku terus, Tuhan. Agar tak pernah lagi merasa sedih dan putus asa, atas kehilangan seseorang.  

Tolong, dekap aku sebagai milik-Mu sepenuhnya. 

Ajari aku menerima luka, lantas bangkit setelahnya.





Pamekasan, Tambung Royal 6.
(20.49 WIB)

Komentar