Langsung ke konten utama

Rinn dan Martin (Mini Cerpen #1)


"Berjanjilah kau tidak akan pernah selesai menjadi temanku. Kau akan selalu ada untukku. Dan, aku tetap akan menjadi penting bagimu."

Rinn melajukan bicaranya seolah tergesa-gesa, padahal teman di sampingnya, Martin, tidak kemana-mana. 

Ia menyiku Martin dengan lengannya yang terlipat. "Berjanjilah, Martin!" desaknya lagi.

Karena Rinn begitu penting bagi Martin, tentu saja ia berkata, "Aku berjanji."

Namun, sepuluh tahun nyatanya bukan waktu yang mudah untuk membuat hubungan mereka yang terputus selama itu kembali seperti biasanya. Rinn dan Martin memang berada di meja yang sama, namun menyesap kopi masing-masing, terdiam cukup panjang sambil mencari kalimat yang tepat untuk membuka pembicaraan. 

Sekelebat ingatan tentang masa kecil mereka yang dihabiskan bersama, cukup membuat Martin tak perlu bicara dulu, selain sambil sesekali menyudutkan ekor matanya pada gadis yang duduk tepat di hadapan pria itu. 

Sampai kemudian, Rinn memulai dengan bertanya, "Apa kabar?" 

Martin seketika menatapnya tiga detik penuh, cukup untuk mengutarakan betapa rindu dirinya pada perempuan bersyal merah muda, yang membiarkan rambut sebahunya tergerai begitu saja. 

"Baik."

Ia bahkan lupa bertanya tentang kabar Rinn juga. 

Situasi yang mempertemukan mereka kembali, atas inisiatif sepasang teman yang sengaja meninggalkan mereka, Abi dan Clara, setelah memastikan bahwa Rinn dan Martin dapat duduk di meja yang sama. 

Sepuluh tahun tanpa sekadar menelepon pun, rupanya cukup lama untuk membuat mereka menjadi akrab seperti sebelumnya. 

"Syukurlah. Aku kira kau takkan pernah pulang lagi ke kota ini." Rinn mencoba menanggapi lagi. Daripada mereka harus diam berlama-lama.

"Rumahku di sini. Aku tetap akan pulang." Martin mengangkat kembali secangkir kopi yang kini tinggal setengahnya.

"Apa kau menonton pertunjukan lukisanku di Jakarta kemarin. Aku sempat ke sana seminggu lalu."

Benar, mereka pernah berada di kota yang sama, hanya saja Martin tak pernah berupaya menghubungi Rinn, sementara gadis itu pun demikian. Ia tak ingin menggelar pertemuan apa pun dengan Martin, sekalipun sedang berada di Jakarta untuk pertama kalinya. 

"Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, bahkan Makassar sekalipun, aku tak pernah melewatkan pertunjukan karyamu, Rinn." 

Sepasang mata gadis itu terkejut, meski ia mencoba tetap tenang tanpa perlu antusias. Sejujurnya, hati Rinn tengah mengembang dengan kalimat sederhana Martin yang barusan terlontar. 

"Darimana kau tahu? Benarkah kau datang?" 

"Hmm... Aku tak pernah tak datang mendukungmu, sesuai janjiku." 


Rinn kembali teringat dengan janji yang dimintanya pada Martin dulu, untuk selalu menjadikannya penting. Dia bahkan masih ingat jelas kalimat kekanakan yang diucapkannya sendiri. 

"Berjanjilah kau tidak akan pernah selesai menjadi temanku. Kau akan selalu ada untukku. Dan, aku tetap akan menjadi penting bagimu."

"Martin," panggilnya menggantung ragu. 

"Hmm?" 

"Apa kau masih menyukaiku?" 

Seketika Martin menghentikan dekapan ringannya pada cangkir kopi. Ia beralih menatap Rinn yang menanyakan hal tentang hatinya. Sepasang mata gadis yang dulunya berbinar, kini meredup seiring waktu. Martin tahu, Rinn tak sedang baik-baik saja beberapa tahun ini. Sayangnya, ia memilih untuk tidak memberikan sepasang bahunya menjadi sandaran. 

Namun, bukan berarti dirinya berhenti menyukai gadis itu. 

"Aku ingin bertanya padamu, sebelum kujawab pertanyaanmu, Rinn."

"Silakan!" 

"Apa kau masih menyukaiku?" 

Rinn dan Martin sesaat tepekur masing-masing. Mengapa pertanyaannya menjadi sama?

Rinn menelusuri hatinya sendiri, mencari jawaban yang dibutuhkan Martin, apakah gadis itu masih menyukainya, setelah sepuluh tahun tak pernah bertemu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.