Langsung ke konten utama

Berdamai Tidaklah Mudah




Aku lebih mudah tertawa di depan banyak orang daripada menangis sendirian

Sering berpikir bahwa menangis adalah hal yang membuang waktu

Tetapi, ketika segalanya tiba untuk meledak

Maka menangis dalam hitungan detik tidaklah cukup, tak jarang iramanya mirip anjing kesakitan

Sesak dan penat menjadi komponen homogen yang tidak terpisah


Aku lebih mudah berdamai dengan keadaan daripada mengeluh karena lelah atas semuanya

Sering berpikir tentang kenyamanan perasaan orang lain daripada kesenangan sendiri

Tetapi, ketika segalanya tiba untuk berdentum

Maka berteriak tidaklah cukup untuk menyelesaikan penuhnya kekesalan dalam hati

Segalanya jadi rapuh, dan aku hanya menginginkan sebuah pelukan tanpa dikomentari


Kadang aku berpikir, kenapa harus sekompromi ini?

Sementara aku punya pendapat sendiri

Tapi, demi berdamai dengan keadaan, demi tetap mendinginkan situasi

Tetap saja yang kupilih hanya tersenyum 

Hingga orang selalu menganggapku manusia tanpa masalah


Saat itu kusimpulkan, bahwa berdamai tidaklah mudah

Jika bukan Tuhan yang turut berperan



Tambung, 07:11 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.