Langsung ke konten utama

Rinn dan Martin (Mini Cerpen #2)


 

Martin menimbang-nimbang, bagaimana seharusnya ia menjawab pertanyaan Rinn barusan? Bukankah harusnya mudah, segampang dirinya melontarkan kalimat yang sama?

"Martin...," panggil Rinn lirih namun cukup membuat lelaki itu berhenti melamunkan jawaban. 

"Aku tidak tahu."

Sesingkat itu ucapannya. Padahal tidaklah sesederhana yang terdengar. Martin cukup mampu memahami hatinya sendiri, betapa debaran jantungnya berdegup lebih cepat setelah bertemu lagi dengan Rinn. Pria itu tahu, barangkali ia masih cinta. Namun, apakah harus dibahas hari ini juga?

"Kalau kau tidak tahu, maka aku akan menjawab hal yang sama," imbuh Rinn setelahnya.

"Kenapa begitu?" Martin balik menyahut.

"Sebab aku juga tak ingin buru-buru membahas ini. Mari saling hidup seperti biasanya, selayaknya kita berteman tanpa perlu berjarak lagi." 

Sejenak Martin seolah merenungkan kalimat Rinn barusan. Ia merasa gadis itu benar, tak perlu menautkan situasi pada perasaan mereka berdua. Setidaknya sekarang, selepas bertemu lagi setelah sepuluh tahun tanpa komunikasi. 

"Baiklah," jawab Martin pada akhirnya. Rinn membalas senyum ke hadapan sahabat tampannya itu. 

"Aku ingin berhenti melukis."

Tiba-tiba saja, Rinn mengganti topik.

"Kenapa? Bukankah sejak kecil kamu suka melukis?" 

Benar, Rinn mencintai lukisan. Hampir semua buku pelajaran, buku tulis, selalu dilukisnya dengan apa-apa yang mendadak menginspirasi. Selain telah menghabiskan ratusan buku gambar, Rinn juga melukis di tembok-tembok jalan, menggambar mural di sana. 

"Entahlah, aku merasa malas saja."

Bagaimana mungkin Rinn mendadak malas dengan kegemaran yang ditekuninya bertahun-tahun? Ia bahkan sudah melakukan puluhan kali pameran lukisan, juga namanya mulai dikenal. Seringkali digandeng beberapa produser film animasi sebagai ilustrator, atau pengarah gambar. Tak mungkin gadis itu tiba-tiba saja ingin melepas mimpi yang sudah digenggamnya. 

Ada yang tidak beres dengannya, Martin membatin. 

"Are you okay?" Hati-hati dirinya mengutarakan. Ia tak ingin memilih kalimat yang melahirkan ketersinggungan pada gadis yang dikenalnya sangat periang. 

Rinn mengangguk. Tetapi, tidak dengan raut wajahnya yang menjawab bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. 

"Jika tak ingin cerita sekarang tentang alasanmu ingin berhenti melukis, aku takkan memaksa." 

Martin justru sangat menyayangkan, mengapa pertemuan penting ini mendadak dihiasi mendung dari sepasang mata gadis karibnya yang teduh itu? Harusnya mereka bersenang-senang, mengulang momentum bersama yang indah, dahulu. Bukan menyaksikan Rinn dengan bulir airmatanya yang hendak jatuh.

Martin lekas memberikan tisu. Dibiarkannya wanita itu menekan sudut mata dengan selembar kertas hingga menyesap kesedihannya. Rinn butuh waktu untuk menyembunyikan alasan, sekaligus luka di balik keputusannya. 

"Lusa, kupastikan akan menjadi pameran lukisanku yang terakhir." Lepas satu menit penuh terdiam, gadis itu bicara lagi. 

"Aku juga sudah membatalkan beberapa tawaran kontrak dengan produser film. Aku benar-benar tak ingin melukis dulu." 

Martin mengangguk. "Baiklah. Tentu ini sudah kau pikirkan berulang kali." 

Lelaki itu seakan tak ingin Rinn melepas kesukaannya pada melukis. Rinn tanpa menggambar, seakan dia bukanlah manusia sempurna. Ia dan lukisannya adalah sepasang lengan kanan dan kiri. 

"Aku kecewa, pada ayahku." 

Martin mendengarnya jelas. Mengapa dengan ayahnya? Sejak kecil, Rinn sudah tak tinggal dengan sosok bernama Ayah, ia bahkan nyaris tak pernah bercerita akan kerinduannya, sekalipun tahu bahwa ayahnya masihlah ada, namun terpisah di koordinat berbeda. 

"Ayahmu?" tanya Martin memastikan. 

"Ya, aku kecewa dengan ayahku." 

Rinn mengucapkannya tepat dengan airmata yang menitik. Martin pun tahu situasinya, ia jelas tak baik-baik saja. Ayahnya, yang tak pernah dibicarakan selama mereka bersahabat, mengapa mendadak membuat gadis itu kecewa, dan mampu menghentikan mimpinya?


Komentar