Langsung ke konten utama

Pulang, Yuk!



Hai, terima kasih untuk diri sendiri. Atas segala pergulatan yang sudah kamu lewati. Atas segala persoalan yang menguras pikiranmu. Sering kamu berdebat dengan isi kepala sendiri hingga pening dan lekas pergi, namun sejauh ini kamu sudah bertahan dan kebal dengan masalahmu.

Kalau bukan karena Tuhan, lantas siapa yang membuatmu seperti ini? Pengalaman? Itu juga kan dari Tuhan. Ah, rupanya Allah baik sekali. Memberi kita masalah, tapi menenangkan hati untuk berpikir jernih dan menemukan solusi tanpa perlu panik.

Berhentilah memikirkan omongan orang lain. Aku tahu kamu salah, kok. Dalam hal apapun, kamu tak pernah benar-benar paling benar, tentu ada salahnya. Tapi, penting sekali untuk tidak menanggapi. 

Ingat saja keluargamu. Mereka yang menanti dan menyambut kedatanganmu setiap sore sambil berlari dan membentangkan tangan minta dipeluk. Iya, anak kamu! 

Mereka yang tatkala mendengar deru motor datang, lekas membuka jendela dan memastikan bahwa kamu telah benar-benar pulang. Iya, anak kamu! 

Atau, pria yang selesai melepas sepatunya lalu menuju kamar, memastikan kamu ada di sana bersama anak-anak. Iya, suami kamu! 

Mereka yang berharga. Jangan pernah kamu tukar dengan yang terlihat indah, padahal tak benar-benar mengindahkan. 

Pulang, yuk! Pulang pada rumahmu yang seharusnya. Iya. Merekalah orangnya. Priamu, juga anak-anakmu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.