Langsung ke konten utama

Maha Setia

 



Sebenarnya, nyaris setiap orang yang melangkahkan napasnya, pernah merasa ragu. Entah ragu untuk memutuskan masa depannya, cita-citanya, mengejar mimpi atau tidak, memilih keyakinan itu atau yang lainnya, mencintai atau membenci dan menghindarinya. Semua keputusan yang sempat membuatnya bimbang. 

Bahkan, sebagian orang pun terlampau jauh menjejalkan kakinya pada makna yang salah, hingga jatuh dan terjerembap dalam. Ada yang memilih kembali, ada yang tak henti menahan sedih dan bertahan dalam kondisi yang sama. 

Belakangan ini, lantas pernah berpikir, bahwa sebenarnya kita tetap harus setia pada satu Tuhan: yang Maha Tahu atas kerisauan, Maha Menolong ketika jatuh, Maha Melimpahkan ketenangan dikala rapuh, pun Maha Memberi bahagia yang tidak ternilai. 

Sebenarnya, Tuhanlah satu-satunya jalan pulang. Tidak ada tujuan lain selain Dia. 
Nyatanya, berharap kepada selain Dia hanyalah memberikan kecewa. 


Tuhan, jika bukan karena Kasih-Mu, mungkin aku sudah tak tertolong lagi. 
Jika bukan karena Kasih-Mu, mungkin aku tidak segembira ini. 
Jika bukan karena Kasih-Mu, mungkin aku tidak setenang ini.
Jika bukan karena Kasih-Mu, mungkin hitamku takkan menjadi putih. 


Maka kali ini, tolong tetaplah setia menarikku jika bersalah, memberiku rasa sadar atas langkah yang salah. Tuhan, tolong tetap peluk aku seerat kau memeluk manusia yang paling Kau kasihi. 



Pamekasan, 28 Agustus 2024
Pukul 04.06 WIB

Komentar