Warna itu sudah berbeda. Dulu dan kini, masih menggenggam warna yang cerah, namun telah berbeda peran dan makna.
Aku mengisi hari-hariku dengan kamu, dulu. Aku mengisi hari-hariku dengan dia, kini.
Hatiku sama penuhnya, cintaku sama tingginya, semestaku sama indahnya. Namun, untuk momentum yang berharga sama pula, izinkan aku mengingatmu lewat tulisan ini.
Kamu yang dulu meneleponku tepat di pukul 12 malam. Mengucapkan selamat ulang tahun dengan manis dan lirih. Kamu yang mengudarakan doa tepat di pukul 12 malam belasan tahun lalu. Andai saja waktu bisa kutarik mundur, akan kutahan detik itu, untuk mengemasmu dalam diam, agar kau tidak kemana-mana. Apalagi menghilang tiada kabar, hingga saat ini.
Sekarang, aku sudah lebih terbang dari tahun lalu. Sayapku sudah membentang dan sepasang utuh. Hidupku dilengkapi dengan lelaki yang kauharapkan dapat mendampingiku penuh cinta.
Doamu terkabul, A'.
Ternyata aku baik-baik saja tanpa kamu, meski sisi lain dari hati ini masih memberi ruang untukmu.
Ternyata aku baik-baik saja tanpa kamu, bersama dengan pria yang diutus Tuhan untuk menemani sekaligus melengkapiku bersama rumah indah bernama "Keluarga".
Ternyata aku masih baik-baik saja.
Aku tentu ingin bertanya kabarmu. Tentu saja. Namun, hanya pada Tuhan jugalah kusebut harapan baik untukmu. Semoga sayapmu telah sepasang pula. Semoga hidupmu terasa lengkap juga. Semoga kamu berbahagia dalam rumah yang terasa nyaman bernama "Keluarga".
Terima kasih, A'.
Sebagai wanita yang menganggapmu 'cinta pertama', aku bersyukur pernah bersama mengurai tawa dan tangisan kecil, bersyukur pernah seindah itu dengan kamu. Aku mohon tetaplah baik-baik saja di sana.
Mungkin aku sempat hancur atas kepergianmu. Namun, dengan luka dan kepedihan yang kurasakan kala itu, aku jadi belajar, bahwa bertumbuh kuat dan tegar tanpamu adalah jauh lebih penting.
Hari ini, aku berulang tahun di usia yang tentu tak lagi muda. Tiga puluh lima tahun.
Hari ini, perpisahan kita sudah delapan belas tahun. Terlampau lebih lama dibanding usiaku sendiri saat mendapatkan kabar bahwa kamu akan pergi saat itu.
Aku sendiri tak pernah menduga, Tuhan tak lagi mempertemukan kita hingga selama ini.
Jadi, mari kita sama-sama mensyukuri yang terjadi. Hancur dan terluka, kemudian membaik dan bangkit lagi, adalah prosesi berharga yang patut diapresiasi. Jika bukan karena kenangan, kita takkan sedewasa sekarang.
Tetaplah bahagia. Percayalah, aku berjanji padamu, untuk menjadikan priaku sekarang sebagai cinta terakhir. Dia lebih dari apa pun. Cinta dan pengorbanannya tak terkalahkan. Dia pria yang rela melelahkan punggungnya demi anak-anak kami.
Biarlah kamu jadi yang pertama, selebihnya, aku ingin sehidup dan seakhirat dengan lelaki sekarang.
Ternyata makna cinta dan kesabaran yang kau ajarkan padaku, membawaku hingga hari ini, untuk mencintai dan menyayangi lelakiku, genap beserta lebih dan kurangnya.
Terima kasih, A'.
Pamekasan, 15 Agustus 2024. (10.25 WIB).

Komentar
Posting Komentar