Langsung ke konten utama

Menukar Belulang


 

    Aku menjadi tahu rasanya menukar tulang rusuk ini menjelma sandaran kuat bagi Nirwana, puteriku. Setelah kami memutuskan untuk menjalani hari-hari tanpa ayahnya lagi. 

     Sungguh, aku sudah memaafkannya. Tak berguna bila harus menabung dendam yang pada akhirnya akan meledak sebagai kebencian tak terperi. Nir yang selalu menyadarkanku bahwa tidak bersama ayahnya, bukan bermakna tak bisa mengampuni salahnya. 

       Setelah hidup dan tinggal hanya berdua, maka satu persatu rencana masa depan mulai direparasi ulang. Aku menyusun kembali ibarat target kerja yang akan kukerjakan sendiri pasca berpisah dari mantan suami.

    Beberapa hari lalu pun, dia sempat menelepon, "kamu apa kabar?" tanya Mas Pras dengan nada datar namun terasa begitu berat. 

    "Aku baik, Mas." Tanpa perlu bertanya balik, kujawab saja singkat. 

    "Nir gimana?" 

    "Baik."

    "Aku ingin bertemu dengan puteri kita."

    "Silakan." 

    Aku membolehkannya menjumpai Nir, namun tidak bila hendak membawanya menginap. Sudah ada wanita itu yang menggantikan posisi kami di hati Mas Pras. Gayatri pasti sudah bersikap baik terhadapnya. 

    "Boleh kubawa Nir untuk berkenalan dengan Gayatri?" 

    Aku terdiam sesaat, lalu menjawab, "tak usah, Mas. Belum saatnya dia tahu soal hubunganmu dengan Gayatri."

    "Aku akan menikahinya bulan depan. Aku perlu mengenalkannya dan mendapatkan restu anakku."

    "Akan kukisahkan hal-hal baik pada anak kita soal perempuanmu itu, Mas. Jangan khawatir. Namun, bila kau ingin mempertemukan puteriku hanya sebab hendak meminta restu, sesungguhnya kau tak perlu mendapatkan hal itu dari Nir. Lanjutkan saja rencanamu, juga hidupmu bersamanya." 

    Aku kesal bukan karena tak menyukai rencana pernikahan itu, namun lebih pada bagaimana menjaga hati Nirwana. Apa yang akan dipertanyakan gadis kecilku, setelah melihat ayahnya menikah dan tidak lagi bersamaku? Aku tak ingin dia menanyakan sekarang. Nir masih sangat belia.  

    "Kalau sudah tak ada yang perlu kau bicarakan, kututup teleponnya." 

    Dia terdiam. Aku memaknainya dengan setuju atas sikapku. 

    "Baiklah kututup, Mas. Terima kasih." 

    Bahkan aku lupa mengakhirinya dengan salam. 

    Lekas ku beralih ke kamar Nir dan mengusap ubun-ubunya, wajah teduh itu mirip sekali dengan sang ayah. Nir, maafkan mama yang tak mampu memberikanmu keluarga utuh. Mama sungguh tak menginginkan keadaan seperti ini juga. 

    Aku membiarkan sepasang mata terjaga cukup lama, sambil terus menatap wajah Nirwana yang tidur pulas. Kini, hanya akulah satu-satunya ibu yang menuangkan seluruh cinta untuk puteri kami. Ayahnya boleh jadi sudah membelah perasaan kasihnya kepada beberapa orang, termasuk Gayatri. Entah presentase untuk kami seberapa, atau justru tidak seberapa. Hal itu menjadi tak penting lagi bagiku. 

    Untuk Nir sekarang, akulah belulang yang menjadi sandarannya. Tulang punggung yang menguatkannya, meski sejatinya diriku lebih pantas menjelma rusuk yang rapuh dan butuh pilar kokoh untuk bertahan. 

    Demi Nir, aku setuju melakukan apa pun, selama baik dan demi kehidupan baiknya. 

    Aku percaya, kami akan membaik seiring dengan berjalannya hari, selama terus bersama dan tetap meninggikan kata maaf atas kepergian ayahnya pada pelukan yang lain. 

    Lekas kusesap air mata yang menitik, menyusutkan lendir yang membasah dan menuruni lubang hidungku juga. Ah, cengeng rasanya. Namun, bukan perempuan namanya bila dia tak menangis atas hal buruk sekaligus berat yang menimpanya. Aku tetaplah wanita biasa. 

    "Mama menangis?" 

    Entah kapan persisnya Nir bangun dan terduduk, lalu menyentuh wajahku yang tertunduk. 

    "Nggak, Sayang," jawabku berdusta. 

    "Kenapa nangis, Ma?" 

    "Nggak apa-apa, angin begitu dingin, sampai Mama selalu menguap dan meneteskan air mata karena ngantuk." 

    "Mama tidur sama Nir aja malam ini, jangan tidur di kamar Mama sendirian." 

    Aku mengangguk, seketika meraih tubuh mungilnya yang membentangkan sepasang tangannya seakan siap menerima dekapanku. 

    Ah, puteriku. Harusnya aku sekuat dirimu. Nampaknya kamu lebih percaya diri menghadapi kehilangan, ketimbang aku yang terus-menerus hancur dalam ratapan. 

    "Mama jangan nangis, jangan sedih lagi, ya!" 

    Aku mengangguk. 

    Bulat niatku untuk tidak merutuki takdir ini, melainkan sepakat pada hati sendiri, agar mampu menciptakan hati yang kuat, sekuat belulang yang kini harus jadi rusuk tegar bagi puteri semata wayang kami. 

    

Tambung, Pamekasan. 21.37 WIB. 

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.