Langsung ke konten utama

Mini Cerpen - Ayah yang Terbaring


Musim sedang terik-teriknya. Setangkup roti hangat yang disandingkan dengan secangkir kopi menambah tempertatur udara semakin hangat. Aku sedang duduk di samping Ayah, yang terbaring sudah dua tahun lamanya. 


Ayah.... 
Sakit yang membuatmu harus bersabar ini seakan menaikkan kompetensi kesabaranku juga. Harus buru-buru cepat pulang demi mengganti diaper yang kau gunakan. Tak pernah lagi bermain dengan teman-teman di sore hari sebab khawatir akan Ayah bila memerlukan bantuan. 


Ayah...

Hari ini adalah kesekian waktu dari kita yang selalu tinggal berdua. Hari dari sekian masa yang dihabiskan bersama berbalut ketabahan. Aku sungguh belajar banyak hal. Dari satu sosok yang mungkin hanya mampu berbaring, namun mengaliri ribuan cara untuk berkompromi dengan hati sendiri. 


Cepat sembuh....

Ayahku....



(Mini cerita ini ditulis saat kegabutan di ruang guru, hari ketiga sebagai manusia baru di SMAN 2 Pamekasan.)


Salam, Kiki Lathif. 

07 Mei 2024, 13.20 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.