Waktu terus berjalan, namun pikiranku tidak kemana-mana. Haluannya tetaplah sama, mengingat kamu.
Aku sendiri cemas pada situasi yang tak mampu kukendalikan ini, saat harus mengulas senyum, barisan canda dan tawa, juga tuturmu yang beraroma cinta.
Barangkali aku memang sudah kalah pada janji sendiri untuk tak lagi merindukan kamu.
Padahal, pagi sedang sibuk-sibuknya. Padahal, mentari sudah panas-panasnya. Padahal, angin tak lagi mendesau ramah. Aku khawatir pada isi kepala sendiri, betapa penuh dengan siluetmu saja.
Kamu, apa kabar?
Bukan aku tak berani bertanya langsung, hanya tak ingin membuatmu dalam masalah. Ketika aku masih sendiri, kamu bahkan lebih dari sekadar berdua dan bersama. Hidupmu sudah sempurna.
Aku juga meminta untuk tak lagi merasa bersalah, pada hidupku yang jelas bukanlah tanggung jawabmu. Aku bahagia, mengingatmu dengan caraku sendiri. Memaknaimu dengan solusiku sendiri.
Sepagi ini, aku memang merindukanmu. Namun, saat ini aku juga sangat menyadari arti kamu di hidupku. Aku paham bagaimana memelukmu dari jauh. Aku mengerti, bahwa rindu ini hanya patut disyukuri, bukan untuk dijadikan alasan pertemuan.
Selamat pagi, kamu! Berbahagialah!
Pamekasan, 08.12 WIB

Komentar
Posting Komentar