Langsung ke konten utama

Sepagi Ini Aku Sudah Merindukanmu



Waktu terus berjalan, namun pikiranku tidak kemana-mana. Haluannya tetaplah sama, mengingat kamu. 

Aku sendiri cemas pada situasi yang tak mampu kukendalikan ini, saat harus mengulas senyum, barisan canda dan tawa, juga tuturmu yang beraroma cinta. 

Barangkali aku memang sudah kalah pada janji sendiri untuk tak lagi merindukan kamu. 

Padahal, pagi sedang sibuk-sibuknya. Padahal, mentari sudah panas-panasnya. Padahal, angin tak lagi mendesau ramah. Aku khawatir pada isi kepala sendiri, betapa penuh dengan siluetmu saja. 

Kamu, apa kabar? 

Bukan aku tak berani bertanya langsung, hanya tak ingin membuatmu dalam masalah. Ketika aku masih sendiri, kamu bahkan lebih dari sekadar berdua dan bersama. Hidupmu sudah sempurna. 

Aku juga meminta untuk tak lagi merasa bersalah, pada hidupku yang jelas bukanlah tanggung jawabmu. Aku bahagia, mengingatmu dengan caraku sendiri. Memaknaimu dengan solusiku sendiri. 

Sepagi ini, aku memang merindukanmu. Namun, saat ini aku juga sangat menyadari arti kamu di hidupku. Aku paham bagaimana memelukmu dari jauh. Aku mengerti, bahwa rindu ini hanya patut disyukuri, bukan untuk dijadikan alasan pertemuan. 

Selamat pagi, kamu! Berbahagialah!


Pamekasan, 08.12 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.