Sebaris doa kuterbangkan ke langit hanya demi mengingatmu dengan baik. Tak ada cara yang lebih indah dari ini untuk mengenangmu dalam-dalam.
Sepasang mata cokelat dan rambutmu yang legam, juga hati bersabar, membuatku mendadak teringat bagaimana prosesi kepergianmu terjadi beberapa tahun silam. Kamu menghilang, bukan karena diterpa badai, melainkan pergi sebab keinginan sendiri untuk meninggalkan.
Jika bukan karena kehilangan, aku takkan pernah tahu kisah kedua yang terjadi selama kita saling mencintai. Rupanya, kamu memiliki banyak perasaan, bukan untuk mencintaiku dan keluarga kita, melainkan demi Gayatri. Perempuan yang kau perjuangakan hingga rela melupakanku dan anak-anak.
Aku mengerti, Gayatri punya sepasang lesung pipi yang cantik. Namun, aku juga berani bertaruh bahwa cinta di hati inilah yang paling palung untukmu. Aku mengerti, Gayatri berumur lebih muda dari istrimu yang sudah sedewasa ini. Namun, aku juga berani bilang bahwa selama sepuluh tahun bersama, tak pernah sekalipun kukeluhkan dirimu yang makin tua.
Aku mencintaimu apa adanya. Sayang sekali, kamu merasa Gayatrilah yang lebih pantas dijuarakan.
Siang itu kamu berucap, "izinkan aku pergi dengan Gayatri, jika kamu tak menghendaki ada pernikahan kedua."
Lagi-lagi aku terkesiap, tergugu cukup lama. Aku merasa sudah tahu bahwa ini akan terjadi.
"Apa tak bisa kau lepas dia dan kembali pada kami?" tegasku untuk terakhir kali.
"Aku mencintainya," tandasmu.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku dan anak-anak?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku hanya tak bisa meninggalkannya."
"Jadi kau lebih mampu meninggalkan kami?"
"Bukan begitu juga."
"Aku memintamu memilih, apa pun keputusanmu, harus kuterima. Namun, jangan pernah memilih kami berdua. Gayatri tak pernah bisa menandingi ketulusanku sebagai istrimu."
"Gayatri juga orang yang baik."
Napasku sungguh bertambah sesak. Ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan denganmu kala itu.
"Lebih baik aku pergi. Maafkan aku."
Air mataku menitik.
"Aku mencintai kalian, tapi seperti katamu, aku harus memilih salah satu."
"Tegas sekali bicaramu, Mas."
"Maafkan aku, Naomi."
Kamu hendak memeluk, namun kutepis sebab rasanya pedih mengingat sepasang tangan itu juga merangkul wanita lain tanpa pernah merasa bersalah membohongi kami di sini.
Setelahnya, kamu yang menjadi jarang pulang bahkan hingga berhari-hari. Kupikir kamu benar-benar sudah pergi. Nyatanya tidak. Di satu waktu kamu datang sambil memberiku secarik surat. Singkat, namun aku tahu itulah akhir dari hubungan kita berdua.
Dik, dengan ucapan bismillah, hari ini aku menalakmu lewat. Setelah kau baca suratku, maka kau pun bukan lagi istriku.
Hatiku pecah, bukan hanya pedih. Lekas kupeluk Nirwana, puteri kita yang belia dan tak tahu apa-apa.
Kamu sungguh keterlaluan...
Beberapa bulan setelahnya, kupikir hidup ini sudah berakhir. Namun, setiap kali menatap sepasang mata Nirwana, aku tahu cinta kita masih tinggal di sana. Dia mirip sekali denganmu. Mata cokelat dan hati yang sabar.
Entah kapan persisnya hati itu mulai berubah. Kamu bukan lagi menjelma lelaki yang kukagumi sebab tak pernah marah, berganti dengan pria yang tak kukenal bagaimana pribadinya.
Di matamu yang indah itu, aku selalu saja salah.
Sampai akhirnya aku pun tahu, ada Gayatri yang mendobrak tahta kami dalam hatimu yang luas. Dia mengisinya, sementara perlahan kamilah yang tersingkir.
Kini, hidupku hanya demi Nirwana. Nir, anak kita.
Aku yang semula ingin mengakhiri hidup, mendadak tegak saat Nirwana memintaku bertahan, untuk tetap di sisinya.
"Mama jangan nangis, ya. Jangan sedih! Nir nggak mau Mama sedih lagi."
Aku diam dan hanya memeluknya.
"Nggak apa Ayah ninggalin Nir, asal bukan Mama yang begitu. Nir mau hidup sama Mama aja."
Dia lalu mengangkat wajahku yang tertunduk memeluk punggung kecilnya. Jelas sekali, ada kamu dalam sepasang mata anak kita. Aku mendadak kuat. Aku mengangguk dan menjawabnya.
"Mama nggak akan kemana-mana."
"Mama janji?" Anak kita melangitkan kelingking kecilnya.
Aku mengangguk, menautkan jari yang sama, "janji."
Sepasang matanya yang menggantikan kerinduanku padamu, akan momentum yang kita jalani bersama dulu. Darinya, setiap hari aku belajar bahwa hidup tetap berjalan, dengan atau tanpa kamu sekalipun.
Aku mulai menukar perasaan buruk dengan hal baik-baik saja. Aku mulai mengganti kalimat doa dengan sebaris kata yang lebih baik juga. Tentangmu, semoga baik-baik saja.
Aku percaya Tuhan tahu caranya mengutarakan betapa kecewanya kami akan pilihanmu untuk pergi. Entah bagaimana jalannya, kuharap kamu pun tahu, bahwa setelah kecewa, kini aku sudah berlapang dada.
Maka, teruntuk mantan suamiku. Langitkan pula doa yang baik-baik untuk kami berdua. Aku dan putrimu yang baik ini.
Pamekasan, 04.30 WIB.


Komentar
Posting Komentar