Langsung ke konten utama

Jangan Berikan Hatimu Kalau Hanya Untuk Dilukai





"Jangan berikan hatimu, kalau hanya untuk dilukai!" 
Arshita menegurku persis saat kami berpapasan sambil berucap kalimat pendek itu. Seakan dia tahu, ada lubang yang baru saja terbentuk di hati ini.

"Apa maksudmu?" 

"Aku tahu kamu," jawabnya lagi. "Aku tahu kamu menyukai pria itu, kan?" 

Sahabatku itu tengah mengarahkan telunjuknya pada seseorang yang duduk di dekat taman kantor kami, sambil mengisap sebatang rokok.

Ah, wajah sederhana itu yang sekian minggu ini menjelma hantu di kepalaku. 

"Tuh kan?" Arshita kembali bicara. "Lihat wajah kamu!" katanya sambil menyodorkan cermin. 

"Kenapa?" balasku bertanya pula. "Make up aman, kok! Nggak ada makanan yang nyangkut di gigi juga, Shit!" Aku mencoba bercanda.

"Nggak usah sok ngalihkan perhatian, deh, Nir! Lihat ekspresi teduh itu, wajah kamu yang menatapnya penuh pengharapan." 

"Nggak, kok!" Aku mengelak.

"Sepuluh tahun sahabatan sama kamu, nggak mungkin aku salah tafsir. Kamu menyukainya, kan?" 

Aku terdiam. Seketika itu. 

Aku memahami perasaanku sendiri, pun mengerti bagaimana hati pria itu. Aku tahu dia terlampau dewasa untukku yang mungkin mengedepankan ego sendiri untuk terus-menerus mengutarakan cinta, yang terus-menerus ingin memeluknya. 

Aku telah berdosa.

"Heh! Kamu mikirin dia lagi, kan?" Arshita kembali mengerjapkan lamunan.

"Entahlah!" 

"Bahaya, nih!" sahutnya lagi. 

"Kenapa?" 

"Bila jawabanmu adalah 'entahlah', itu pertanda buruk," sambungnya lagi.

"Sudah berapa lama bimbang begini?" 

Aku mengangkat sepasang bahu. Entah sejak kapan keraguan itu beradu dengan bimbang. Aku bahkan tak tahu menghitung waktu, kapan pula tepatnya menyukai pria dewasa itu.

Aku hanya ingin bilang, dalam dirinya tak ada hal yang istimewa. Tidak ada. Semuanya sederhana. Namun, cinta tidaklah mampu dibahasakan dengan alasan. Cinta hanyalah cinta itu sendiri, tanpa tapi, tanpa namun. 

"Seringkah kalian bertemu?" Seakan Arshita mampu menebakku dengan pertanyaan itu. Kembali kugidikkan sepasang bahu. Tak ingin kujawab pertanyaan itu.

Kami bahkan sudah bertemu untuk alasan yang mendadak penting. Seakan tak perlu rencana jauh-jauh hari. 

"Aku merindukannya." Hati ini bergumam sendiri. 

Ternyata rela tidaklah semudah itu. Faktanya, seringkali aku sepakat dengan janji-janji, namun kian berulang dengan tidak menepati. 

Aku hanya berharap hati ini lekas lelah, atas luka yang kubuat sendiri. Atas alasan mencintainya. Cinta tidak salah, kok. Akulah pemeran utama yang harusnya menolak untuk terbiasa dengannya. 

"Hhh...!" 

"Kenapa, Nir? Berat amat napasmu!" sindir Arshita. Temanku satu ini memang selalu bernada ketus, meski sesungguhnya dia teramat baik. 

"Nggak apa-apa!" 

"Jawabanmu memang tidak apa-apa, tapi sebaliknya, kamu terlihat begitu tersiksa."

"Aku harus gimana supaya kamu nggak bisa nebak apapun?" 

Kali ini, aku memilih tidak memberinya cerita sedikitpun tentang dia. Pria berwajah sederhana itu. Tidak lagi. Bukan karena Arshita tak bisa menjaga rahasia. Aneh, menyebut namanya saja terasa begitu menyesakkan. 

Pria yang kutatap dari jauh itu pun kembali menyulutkan api pada sebatang rokok yang baru, sambil tetap memainkan ponselnya dengan serius. 

Harus kuapakan kepala sendiri agar mampu mengusir ingatan tentang dia? 
Aku telah melibatkan hati, meski baru saja Arshita berucap, "Jangan berikan hatimu kalau hanya untuk dilukai!" 

Aku sudah terluka. Atas pilihanku sendiri yang mau memberikan hati. 

Tuhan, tolong kirim waktu yang terus berjalan, dan membawaku setidaknya rela atas cinta yang tak mungkin bersatu ini. 

Mendadak sekali, seketika itu pula, sepasang mata yang lain menjelma di pikiranku. Sepasang mata hangat, milik seseorang yang bertahun-tahun lalu, mengikrarkan janji untuk menjadi temanku. 

Teman, di hidupku. 




Cerpen - Jangan Berikan Hatimu Kalau Hanya Untuk Dilukai

Tambung, 04 Oktober 2024
22.02 WIB


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.