Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2024

Beralih

Mari beralih dari bersenang-senang menjadi sekadar senang Aku tidak ingin memiliki teman yang mendadak jadi musuh, pun tak ingin membenci sikapmu Tolong bawa pergi hatimu, jangan lagi mendekap perasaanku  Aku tak bisa terus-menerus menjadi bodoh dengan kamu yang mendadak datang, lalu pergi berhari-hari Aku tak ingin berulang-ulang menempatkan diri hanya di sudut hatimu, tanpa menjadi prioritas Izinkan aku pergi, biarkan kita beralih menjadi teman yang saling menyenangi, namun tidak lagi bersenang-senang di atas kenyataan yang tak mungkin dipungkiri Mari kembalikan jabat tangan kita menjadi hangat tanpa perlu saling memeluk kesepian Sebab sebenarnya, kita tak benar-benar sunyi Orang-orang yang sengaja tak kita ingat, mereka ada untuk menyemangati Orang-orang yang sengaja tak kita ingat, mereka ada untuk menawarkan senyum Orang-orang yang sengaja tak kita ingat, mereka ada untuk menabur cinta Kita sajalah yang ego...  Jadi, mari beralih... Aku terlampau letih untuk berpura-pura ...

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.

Berdamai Tidaklah Mudah

Aku lebih mudah tertawa di depan banyak orang daripada menangis sendirian Sering berpikir bahwa menangis adalah hal yang membuang waktu Tetapi, ketika segalanya tiba untuk meledak Maka menangis dalam hitungan detik tidaklah cukup, tak jarang iramanya mirip anjing kesakitan Sesak dan penat menjadi komponen homogen yang tidak terpisah Aku lebih mudah berdamai dengan keadaan daripada mengeluh karena lelah atas semuanya Sering berpikir tentang kenyamanan perasaan orang lain daripada kesenangan sendiri Tetapi, ketika segalanya tiba untuk berdentum Maka berteriak tidaklah cukup untuk menyelesaikan penuhnya kekesalan dalam hati Segalanya jadi rapuh, dan aku hanya menginginkan sebuah pelukan tanpa dikomentari Kadang aku berpikir, kenapa harus sekompromi ini? Sementara aku punya pendapat sendiri Tapi, demi berdamai dengan keadaan, demi tetap mendinginkan situasi Tetap saja yang kupilih hanya tersenyum  Hingga orang selalu menganggapku manusia tanpa masalah Saat itu kusimpulkan, bahwa berdam...

Hei Laut

Hei laut... Aku hendak mengayunkan surat botol kali ini...  Untuk seseorang yang tak mampu kusebutkan namanya...  Untuknya yang masih terkenang dalam hati tanpa berhenti... Aku mengingatnya... Banyak-banyak... Hei laut...  Aku mengerti surat ini takkan pernah sampai pada penerimanya...  Aku hanya iseng, mengusik ombakmu yang teratur... Memberi ruang pada dadaku sendiri untuk tumpah di pangkuanmu...  Rasanya sesak... Kenapa bisa begitu, ya? Seperti harmoni yang menggema sekaligus keras menghantam bagian diriku di sini... Iya, di sini... Di tengah-tengah hati...  Padahal aku tak pernah menyengaja untuk menyimpan ingatan tentangnya... Namun, ia tak lelah juga untuk tinggal. Tetap tinggal di sini...  Iya, di sini... Di tengah-tengah hati... Hei laut...  Jika ombakmu setenang itu... Lantas kapan pikiranku bisa setenang dirimu? Ditulis, 22 November 2024 Tambung, 18:20 WIB

Dekap Dirimu Sendiri

Untuk kamu yang sudah bertahan sejauh ini Untuk kamu yang sedang berada di fase terlelah Untuk siapapun yang telah berupaya namun masih saja gagal Dekaplah dirimu yang hebat itu,  Kamu perlu tahu, dirimu luar biasa. Kamu capek, tapi tidak menyerah... Itu lebih dari segalanya...  Tuhan tak pernah menempatkan situasi saat ini kecuali sebab memang yang terbaik Terluka diiringi suka, terjatuh diiringi semangat untuk melanjutkan kehidupan Tuhan selalu baik...  Dan, kamu selalu hebat...

Dekap

Bersamamu adalah hal paling mustahil sekaligus ajaib untuk terjadi. Aku tak pernah yakin akan menjadi takdirku. Bukan menyerah, namun logikalah yang bicara, untuk tak terus-menerus menggila.  Bagaimana pun inginku memintamu dalam doa, aku berhenti pada kata 'semoga kau baik-baik saja'. Sungguh, harapan sederhana, namun terasa menyakitkan.  Rupanya, aku belum benar-benar sembuh dari mengikhlaskanmu.... 

Rinn dan Martin (Mini Cerpen #2)

  Martin menimbang-nimbang, bagaimana seharusnya ia menjawab pertanyaan Rinn barusan? Bukankah harusnya mudah, segampang dirinya melontarkan kalimat yang sama? "Martin...," panggil Rinn lirih namun cukup membuat lelaki itu berhenti melamunkan jawaban.  "Aku tidak tahu." Sesingkat itu ucapannya. Padahal tidaklah sesederhana yang terdengar. Martin cukup mampu memahami hatinya sendiri, betapa debaran jantungnya berdegup lebih cepat setelah bertemu lagi dengan Rinn. Pria itu tahu, barangkali ia masih cinta. Namun, apakah harus dibahas hari ini juga? "Kalau kau tidak tahu, maka aku akan menjawab hal yang sama," imbuh Rinn setelahnya. "Kenapa begitu?" Martin balik menyahut. "Sebab aku juga tak ingin buru-buru membahas ini. Mari saling hidup seperti biasanya, selayaknya kita berteman tanpa perlu berjarak lagi."  Sejenak Martin seolah merenungkan kalimat Rinn barusan. Ia merasa gadis itu benar, tak perlu menautkan situasi pada perasaan mereka b...

Rinn dan Martin (Mini Cerpen #1)

"Berjanjilah kau tidak akan pernah selesai menjadi temanku. Kau akan selalu ada untukku. Dan, aku tetap akan menjadi penting bagimu." Rinn melajukan bicaranya seolah tergesa-gesa, padahal teman di sampingnya, Martin, tidak kemana-mana.  Ia menyiku Martin dengan lengannya yang terlipat. "Berjanjilah, Martin!" desaknya lagi. Karena Rinn begitu penting bagi Martin, tentu saja ia berkata, "Aku berjanji." Namun, sepuluh tahun nyatanya bukan waktu yang mudah untuk membuat hubungan mereka yang terputus selama itu kembali seperti biasanya. Rinn dan Martin memang berada di meja yang sama, namun menyesap kopi masing-masing, terdiam cukup panjang sambil mencari kalimat yang tepat untuk membuka pembicaraan.  Sekelebat ingatan tentang masa kecil mereka yang dihabiskan bersama, cukup membuat Martin tak perlu bicara dulu, selain sambil sesekali menyudutkan ekor matanya pada gadis yang duduk tepat di hadapan pria itu.  Sampai kemudian, Rinn memulai dengan bertanya, "...

Mari Sampaikan Rindu Kita

Mari sampaikan rindu kita pada angin yang berdesir Membiarkannya berkabar tentang cinta Yang takkan pernah singgah pada tanah serupa Mari sampaikan rindu kita pada angin yang berdesir Melewatkannya tertiup ke segala arah Menyadarkan bahwa di bawah langit yang sama Kita tetap saja tinggal di rumah berbeda Kamu dan aku seperti helai daun pepohonan Yang sekali waktu akan gugur Terlepas dengan sendirinya Pelan-pelan menjauh  Tanpa perlu merasa pilu  Ditulis, 10 November 2024 Tambung, 09:56 WIB

Kamu...

Terima kasih untuk selalu ada... Kamu dan upayamu... juga doamu...   Terus genggam diri ini... Sebab kerap merasa ragu...  AKU MENCINTAIMU...  Ditulis, 10 November 2024 Tambung, 17:00 WIB

Pulang, Yuk!

Hai, terima kasih untuk diri sendiri. Atas segala pergulatan yang sudah kamu lewati. Atas segala persoalan yang menguras pikiranmu. Sering kamu berdebat dengan isi kepala sendiri hingga pening dan lekas pergi, namun sejauh ini kamu sudah bertahan dan kebal dengan masalahmu. Kalau bukan karena Tuhan, lantas siapa yang membuatmu seperti ini? Pengalaman? Itu juga kan dari Tuhan. Ah, rupanya Allah baik sekali. Memberi kita masalah, tapi menenangkan hati untuk berpikir jernih dan menemukan solusi tanpa perlu panik. Berhentilah memikirkan omongan orang lain. Aku tahu kamu salah, kok. Dalam hal apapun, kamu tak pernah benar-benar paling benar, tentu ada salahnya. Tapi, penting sekali untuk tidak menanggapi.  Ingat saja keluargamu. Mereka yang menanti dan menyambut kedatanganmu setiap sore sambil berlari dan membentangkan tangan minta dipeluk. Iya, anak kamu!  Mereka yang tatkala mendengar deru motor datang, lekas membuka jendela dan memastikan bahwa kamu telah benar-benar pulang. Iya...

Secangkir Sejuk

  Aku tak ingin lagi memikirkan apapun tentang kamu,  bukan karena membenci, namun memilih kehilangan daripada terus-menerus terluka.  Aku bukan lagi hendak menghindar dari kamu, namun mencoba berada di titik terjauh, sebab mendekatpun bukanlah solusi dari rindu.  Di tanganku, hadir secangkir air sejuk. Di tanganmu, hadir secangkir air yang sama. Mari saling teguk, lalu bernapaslah penuh. Sejauh ini kita sudah cukup pilu, jangan lagi cinta melukaimu! Ditulis, 03 November 2024 Tambung, 18:54 WIB