Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Mari Menelannya Bersama

  Kecewa yang dipasangkan dengan bahagia itu, luka yang disandingkan dengan rasa syukur itu,  mari menelannya bersama!  Aku pernah menganggapmu satu dari milyaran manusia paling baik, yang tak bisa kudeskripsikan bagaimana kebaikan itu sampai di hati.  Aku pernah melabelimu sebagai satu dari triliun manusia paling gila,  yang tak bisa kugambarkan bagaimana dahsyatnya cinta. Aku hanya ingin kita menelannya bersama. Sepasang rasa antara cinta dan pedihnya, sepasang rasa antara rindu dan penatnya. Mari berdamai, hari ini! Dengan segalanya.  Kurasa, sudah saatnya sakit hati tidak menyertai. Dan, sudah saatnya kita kembali pada bentuk rasa syukur yang tepat!  Jangan memintaku datang! Jangan juga merindukanku terlalu dalam!  Mari menelannya bersama. Ingatan itu, kenangan itu, biarlah masa depan tertulis lebih indah, dengan perjalanan kita masing-masing.  02 Juni 2025 Tambung, 16:50 WIB

Anomali Luka

Kamu seperti anomali luka Telah kuobati lewat waktu yang begitu lama Namun, sering kamu hadir berupa ingatan Yang menghubungkanku dengan kenangan kita Dulu.... Kamu seperti anomali luka Sudah kusingkirkan susah payah  Melampaui banyak hal untuk mengalihkan sedihnya Sayangnya, kamu mendadak datang lagi Kali ini... Aku pernah menulis surat  Mengirimkannya lewat udara Mendeskripsikan rindu yang tak terukur  Untuk kamu yang tak pernah membalasnya Dulu... Aku pernah mengapungkan sebotol surat berbeda Menitipkannya pada lautan Masih menjelaskan rindu yang tak terhitung Untuk kamu yang tak pernah pula membacanya Hingga hari ini... Kamu adalah anomali luka Selalu punya tempat sendiri untuk datang  Dan mengetuk ingatan sederhana  Tentang cinta pertama Selebihnya, air mataku meretas pelan Membentur takdir kita yang tak pernah bersama 31 Mei 2025 Tambung, 13:59 WIB

Lelah

  Kalau saja aku bisa menggerakkan pikiran semudah kugiring jemari hendak mengetikkan kata, akan kupinta ia untuk menghapus segala ingatan tentang kamu.  Aku yang bukan takdirmu, tak pernah kupersoalkan itu. Ini tentang mengatasi kecemasanku sendiri. Mengobati kepedihanku sendiri. Mengusir penyesalanku sendiri.  Tiap kali kita berdebat, selalu saja berujung dengan penat yang kuciptakan di dada.  Hubungan ini sungguh melelahkan...  31 Mei 2025 Tambung, 13:44

Aku (Tidak) Baik-baik Saja

Aku ingin selalu berpura-pura baik-baik saja. Berperan senantiasa bahagia. Berlagak seperti tak terjadi apa-apa. Setelah 18 tahun, ternyata definisi mencintai sederhana masih jatuh di 'kamu'.  Pertemuanku dengan banyak orang, nyatanya menawarkan cinta yang tak lagi memiliki arti serupa. Cinta yang menghargai pertemuan, menikmati waktu bersama dengan hanya berbincang, menapaki jalanan tanpa bergandeng tangan, menikmati keluguan dan remaja yang tidak terulang.  Ternyata, siluet tentang postur punggungmu yang kukenal itu, masih menjadi pemenang dalam hal menghargai cinta.  A'...  Akhir-akhir ini aku mengenal seseorang yang mengatakan cinta di usia tak lagi muda. Menawarkan bahagia dan kisah lain yang mungkin memegahkan hati. Memberikan makna cinta jauh berbeda darimu yang dulu kudapatkan.  Akhir-akhir ini, aku merasa menyesali banyak hal. Merasa melukai diriku dan banyak orang. Aku merasa tak mengenali tubuh sendiri. Merasa asing dengan caraku berpikir.  Aku k...

Dengan atau Tanpa

Aku datang sebagai sosok yang paling menarik bagimu. Sebagai manusia yang menurutmu sangat menyenangkan.  Saat ini... Entah situasi kita akan bertahan sampai kapan, tak mampu kuprediksi. Tapi, setidaknya aku jadi tahu, bahwa ada seseorang yang juga menyenangkan untuk kuajak lama-lama berbincang. Tanpa alasan yang kuat, cukup merasa kita bahagia jika berdua.  Kamu, tetaplah menjadi dirimu yang baik demikian. Jangan pernah berubah sekalipun kita tak lagi menjadi kita seperti sekarang.  Barangkali nanti, aku dan kamu adalah sepasang orang asing yang tak menoleh meski berpapasan. Barangkali nanti, aku dan kamu adalah sepasang orang asing yang cukup hanya dengan mendoakan.  Barangkali nanti, aku dan kamu adalah sepasang orang asing yang mengupayakan masa depan dalam perbedaan.  Tidak apa-apa! Sungguh tidak apa-apa! Dengan atau tanpaku, kamu harus bahagia.  Dengan atau tanpamu, aku harus baik-baik saja.  Selamat malam, Cahaya !  Duko Timur, 22:39 WIB

Sampai di Sini

Biarkan cerita kecil ini menjadi bagian yang dikenang sesekali Kita pernah saling menggebu soal cinta Seolah tidak bersalah, seolah hanya kita yang bergairah Tapi, kenyataan menampar kita berulang-ulang Dengan dialog menyakitkan yang tak berkesudahan  Akhirnya, melepaskan adalah jalan terbaiknya Duko Timur 11:17 WIB

You Tell Me Everything

Kalaupun perhatianmu disepelekan, pedulimu tidak dianggap, perasaanmu tidak berbalas, percayalah bahwa Tuhan menitipkan rasa di hatimu, tidak sembarangan.  Kamu akan belajar darinya, hingga sampai pada kesimpulan bahwa mencintai seseorang yang tidak tepat itu menyakitkan.  Sikapnya, menjelaskan banyak hal terhadapmu. Biarkan dirimu tahu berbagai rupa dari pedih itu, sampai lelah untuk menjalaninya lagi.  Kamu akan kuat, jauh lebih kuat, setelahnya...  Tambung, 05 Februari 2025  04:29 WIB

Terima Kasih

Lelaki itu mengenakan topi yang kini tak lagi dibuatnya miring, melainkan tegak simetris dengan sisi tengah wajahnya. Terlihat lebih rapi. Tampak berbeda dari biasanya yang selalu berantakan.  Lelaki itu, tidak lagi kukenali karena cinta, melainkan sebab telah melegakan hati sendiri.  Betapa indah rasanya, telah mampu berterima kasih pada diri ini, untuk tetap menjaganya hanya dalam doa, tanpa perlu menyinggung secuil apapun bagian dari tubuhnya. Dia pantas untuk rapi, menata ulang hidupnya, tanpa perlu ada aku.  Terima kasih...  Tambung, 20:14 WIB

Kita Bicarakan Selamanya

Aku tidak berjanji menyertaimu sampai akhir, barangkali dirikulah yang meninggalkanmu lebih dulu nanti. Namun, mari kita saling membicarakan apa pun selagi mampu menikmatinya bersama. Menjadi pendengar yang sabar satu sama lain.  Alasanku memilihmu dulu bukan sekadar karena cinta, bukan karena momentum indah yang dilalui berdua. Keyakinanku terlahir dari hati. Aku percaya, kamu mampu menggenggamku dalam situasi apa pun. Mari kita saling memeluk selagi mampu melampaui segalanya bersama.  Masa-masa sulit ini, ketidakmudahan ini, semuanya. Mari kita bicarakan selamanya, semampu kita masih dapat bersama.  Tambung, 03:40 WIB

Recall

Bagaimana mungkin kusebut namamu lagi sementara wajahmu di usia ini tak bisa kudeskripsikan dengan benar? Basi-basi pun, hanyalah kalimat 'apa kabar' yang terlontar. Sekadar mampu membingkai siluetmu yang bertubuh kurus itu?  Menemukan manusia sepertimu, setelah sepuluh tahun kita tak pernah lagi berhadapan, rasanya tak pernah terpikir olehku. Dia, seperti dirimu yang menjelma padanya. Meski banyak hal berbeda, jelas pula tidaklah sama, aku meyakini bahwa ketulusan ini mirip dengan bagaimana dulu kucintai kamu.  Kamu, seperti memanggilku lagi, lewat dirinya. Kamu, menyentuh ingatanku tentang kita dulu, lewat dirinya.  Jangan-jangan, malam ini kita sama-sama saling mengingat segalanya? Mungkinkah? Tambung, 22:45 WIB

Tentang Luka

Kupikir, luka hanya memberi kepedihan. Lebih dari itu, hadiahnya adalah ketangguhan sebab belajar untuk terus bertahan. Luka tidaklah sejahat itu. Di balik perjalanannya yang menyakitkan, ia hadir sebagai guru terbaik yang hadiahnya berupa kesabaran. Aku menjadi lebih kuat.  Seseorang yang menyakiti, ah tidak, mereka tak pernah berniat demikian. Kitalah yang menganggap bahwa manusia terlalu jahat. Hati yang tak jernih, lantas melimpahkan alasan kesedihan karena perilaku orang lain.  Mereka tidaklah jahat. Mereka datang untuk mengajak kita belajar menangis, sekaligus tegak pada prinsip untuk melepaskan.  Maaf, jika selama ini aku melabeli dirimu sebagai orang jahat itu. Kini tidak lagi. Apapun yang kamu lakukan, semata memang karena kamu menghendakinya, bukan karena berniat buruk padaku.  Luka dan kamu, adalah sepasang peri terbaik yang mengajakku perlahan menyadari, bahwa hidup adalah tentang berserah dan mengikhlaskan.  Tambung, 04:55 WIB

Menyingkir Pergi

Aku menyingkir agar luka ini perlahan pulih. Mengesampingkan diri darimu adalah pilihanku sendiri. Tak perlu lagi mencari hingga menemui, sebab sejatinya kamu tetap ada di sini, dalam doa baik yang selalu terucap.  Aku memang bukan orang paling suci yang tanpa cela, namun memutuskan bertanggung jawab atas diri sendiri adalah pasti. Biarkan kita baik-baik saja, sambil baik-baik pergi, baik-baik menyingkir. Bukankah akan lebih indah bila mengakhiri dengan kesadaran penuh? Aku tidak pergi kemana pun, hanya menjeda keberadaanku dari kamu, menjauh terlebih dulu, hingga kupastikan menatapmu lagi dengan perasaan yang sudah ku normalisasi. Terima kasih... Untuk setiap momentum indah dan bahagia yang memberi warna unik tersendiri.  Kamu berhak bahagia... Aku pun berhak menjalani hidup tanpa pura-pura.  Duko Timur, 22:51 WIB