Aku ingin selalu berpura-pura baik-baik saja. Berperan senantiasa bahagia. Berlagak seperti tak terjadi apa-apa.
Setelah 18 tahun, ternyata definisi mencintai sederhana masih jatuh di 'kamu'.
Pertemuanku dengan banyak orang, nyatanya menawarkan cinta yang tak lagi memiliki arti serupa. Cinta yang menghargai pertemuan, menikmati waktu bersama dengan hanya berbincang, menapaki jalanan tanpa bergandeng tangan, menikmati keluguan dan remaja yang tidak terulang.
Ternyata, siluet tentang postur punggungmu yang kukenal itu, masih menjadi pemenang dalam hal menghargai cinta.
A'...
Akhir-akhir ini aku mengenal seseorang yang mengatakan cinta di usia tak lagi muda. Menawarkan bahagia dan kisah lain yang mungkin memegahkan hati. Memberikan makna cinta jauh berbeda darimu yang dulu kudapatkan.
Akhir-akhir ini, aku merasa menyesali banyak hal. Merasa melukai diriku dan banyak orang. Aku merasa tak mengenali tubuh sendiri. Merasa asing dengan caraku berpikir.
Aku kenapa? Kenapa harus sejahat ini?
Selepas belasan tahun, kupikir takkan lagi membandingkanmu dengan siapapun, nyatanya kamu mengingatkanku akan banyak hal. Banyak sekali. Hingga aku menangisi banyak kejadian yang membuat kesal sendiri.
Aku harus bagaimana? Memutar waktu pun tak bisa. Mengubah kenangan itu pun tak mampu. Melupakannya serta merta juga tak memiliki daya. Lantas, aku harus bagaimana?
Kalaupun kamu melihatku sekarang, barangkali kamu merasa jijik, dengan gadis lugu yang kini berlumpur dosa. Terjerumus dalam kubangan kehidupan yang buruk.
Beritahu caranya agar aku bisa memaafkan diri sendiri!
Beritahu caranya agar aku menghargai diriku sendiri!
Beritahu caranya agar aku bisa percaya diri!
Setelah bertemu dia, aku berpura-pura baik-baik saja. Aku berlagak tak terjadi apa-apa. Padahal, rasanya aku ingin mengempaskan segala ingatan. Kembali menjadi bayi, yang belum mengenal perih, apalagi salah yang terulang berkali-kali.
Ajari aku, bagaimana harusnya memaknai semua ini!
Tambung, 21:08 WIB

Komentar
Posting Komentar