Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2024

Papa

  Papa, aku memelukmu dalam ingatan Entah bagian mana dari siluetmu yang kurekam Aku hanya merasa dekapanmu begitu hangat Papa, aku menyebutmu dalam sajak doa Kepada Tuhan kusebut lembut nama kecilmu Semoga kelak kita memiliki waktu untuk bercengkrama Papa, aku mengenangmu lewat aksara Lembar demi lembar puisi kupersembahkan Segala isinya tentang harapan baik buatmu  Papa, telah sekian tahun hidup tanpamu Bukan berarti kau tak ada di hatiku Puteri kecil yang dulu kau raih dengan sepasang tangan Barangkali saat ini tak lagi mampu kau gendong di ayunan Aku telah remaja, dan kau masih menjadi cinta pertama Selamanya... Demi puterimu... gadismu...  Datanglah untuk merangkulku sekali saja Ditulis 28 Oktober 2024 Tambung, 21:31 WIB

Debat Kecil

Seringkali berdebat Justru sebab saling sayang  Ekspresi cinta sederhana  Setelahnya, mereka tertawa lagi Melempar mainan Memukul kecil Menangis sesaat Setelahnya, mereka tertawa lagi Berebut lego Bertengkar menarik Beradu celoteh Setelahnya, mereka tertawa lagi Sebutan keren untuk perannya adalah: 'Anak-anak' Duko Timur: 05:29 WIB

Keluarga (Kita)

Tidak untuk hari ini ataupun selanjutnya Berlalulah Redalah Pergi sejauhnya Biar perlahan luka menutup Dan sembuh dengan sendirinya Sepasang tangan lain sedang menunggu Membuka selebarnya Dan berharap kamu memeluk  Lantas berikan dekapan terhangatmu Untuk dia yang sepenuh hati mencinta Bingkai saja kenangan Manis diingat, namun jangan terulang Pulanglah Pada tempat yang pantas kau sebut 'rumah' Ditulis 26 Oktober 2024 SMAN 2 Pamekasan, 12:20 WIB

Lepas

  Bahkan derap langkahmu teramat kukenali Aroma rokok yang lekat Punggung yang tirus itu Mesti kulepas Kamu dan aku Adalah sepasang tuan rumah dan tamu Betapapun nyaman bersama Aku harus berpamitan pulang Sayangnya, hatiku tertinggal di sana Padamu....  Ditulis, 19 Oktober 2024 Tambung, 16:41 WIB

Pernah

  Aku pernah menyebutmu dalam doa Kepada Tuhan ku bertutur Untuk melenyapkan kebimbangan Aku pernah menghina diri sendiri dan berkata bodoh Semata-mata sebab ingin meluruhkan pilu Dikala berkendara yang harusnya tenang Aku berteriak setengah memaksa Tuhan Agar melepasmu dari ingatan Aku pernah demikian, karena kamu...  Ditulis 19 Oktober 2024 Tambung, 16:35 WIB

Tangan Kecil

  Perjalanan menuju sekolahnya adalah momentum yang mengharukan. Sebenarnya dia hanya akan diam, tidak bicara kecuali kuajukan pertanyaan. Namun, hal sederhana yang dilakukannya sepanjang jalan adalah memainkan kain hijabku.  Tanpa disadari, itu membuatku sungguh bermakna sebagai ibunya.  Hati mendadak melambung dan terharu, menganggapnya masih menjadikanku wanita paling difavoritkan.  Anakku, maafkan ibu.  Bila sejauh ini belum mampu menjadi ibu yang baik bagimu.  Maafkan...  Ditulis, 23 Oktober 2024 Tambung, 03:34 WIB

Menyesal dan Bersyukur

  Sepasang kata terlontar darimu: "menyesal dan bersyukur" Atas apa-apa yang kita rasakan, sekarang Bahkan, sekadar duduk di hadapanmu saja membuatku bingung Segala rencana di kepala seketika lebur Aku telah berkata jujur Akan kegilaan beberapa hari ini Bagimu, barangkali terasa tak masuk akal Bagiku, lebih pantas dibilang tidak bernalar Tolong sebut namaku dalam doamu Agar hati ini kembali membaik Sungguh-sungguh ku memohon Setidaknya Tuhan mendengar doa yang sama dari sepasang manusia Bukan lantaran aku saja yang kuat berharap Menyesal dan bersyukur, dua hal yang juga kurasakan. Percayalah, melihatmu tanpa tendensi rasa apa pun Adalah keinginan terbesarku: sekarang! Ditulis, 21 Oktober 2024 Tambung, 15:10 WIB

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Cengkrama Siluet

Sepasang siluetmu dan dia duduk di sudut taman Mengangkat segelas lemon tea dan bersulang Merayakan kerelaan Mempermalukan diri sendiri di masa lalu Mengapa bisa sebodoh itu? Sepasang siluetmu dan dia saling berjabat tangan Bertukar gelas dan bersulang Merelakan perpisahan  Kalian saling menepuk pundak Menguatkan diri sendiri di masa kini Mengapa bisa sekuat itu? Dia bilang, aku mencintaimu dan memaafkan Kau bilang, aku mencintaimu dan memaafkan  Kalian sama-sama bilang, 'Mari pulang!' 'Cengkrama kita sudah selesai'.  Ditulis, 17 Oktober 2024 Tambung, 04:49 WIB

Radar Darimu

Nampaknya selama ini aku tak benar-benar memahami radar darimu: untuk tidak sampai ada rasa! Anehnya, selepas kau kirimkan radar itu, justru langkahmu mendekapku lebih palung. Membuatku bingung. Gilanya, setelah itu kau lempar jauh kebimbangan ini seakan tak ingin dekat lagi. Aku atau kamu yang cemas? Tak mampu menghadapi isi hati sendiri? Sempat kutenggelamkan seluruh kepala agar ingatan itu hilang. Nyatanya kamu ikut terbenam, wajahmu berdiam di dasar. Tetap kucoba untuk tenang. Aku hanya bisa memaafkan pelan-pelan.  Menerima keadaan ini sendiri, merevisi semua tentang kamu. Tinggal menunggu waktu, sampai kelegaan itu lahir, dan kuanggap kamu bukan manusia jahat lagi.  Ditulis 17 Oktober 2024 Tambung, 04.40 WIB

Cara Berbahagia

  Cobalah menuliskannya dengan hati yang luas. Setelah memaafkan, maka biarkan ia pergi dengan tenang. Tuliskan semua kenangan kalian, namun jangan beratkan langkahnya. Keputusannya ... Doakanlah ...  Itulah satu-satunya cara membingkai masa lalu tanpa perlu menyesal. Sesekali tak apa jika kamu ingin menangis.  Rindu memang tak memiliki massa, namun seringkali menyesakkan.  Tetapi ingat, hiduplah sekali dan untuk memaafkannya berkali-kali. Cobalah mendengarkan lagu-lagu bahagia, agar senyummu kian rekah. Kamu dan dia harus baik-baik saja.  Tak apa jika hanya sebagai teman, paling tidak kamu masih memilikinya dengan cinta, bukan sebab benci yang membabi buta. Jika kalian pernah saling cinta, maka hindarilah patah hati sebab dendam terhadapnya.  Tambung, 21.20 WIB

Jangan Berikan Hatimu Kalau Hanya Untuk Dilukai

"Jangan berikan hatimu, kalau hanya untuk dilukai!"  Arshita menegurku persis saat kami berpapasan sambil berucap kalimat pendek itu. Seakan dia tahu, ada lubang yang baru saja terbentuk di hati ini. "Apa maksudmu?"  "Aku tahu kamu," jawabnya lagi. "Aku tahu kamu menyukai pria itu, kan?"  Sahabatku itu tengah mengarahkan telunjuknya pada seseorang yang duduk di dekat taman kantor kami, sambil mengisap sebatang rokok. Ah, wajah sederhana itu yang sekian minggu ini menjelma hantu di kepalaku.  "Tuh kan?" Arshita kembali bicara. "Lihat wajah kamu!" katanya sambil menyodorkan cermin.  "Kenapa?" balasku bertanya pula. "Make up aman, kok! Nggak ada makanan yang nyangkut di gigi juga, Shit!" Aku mencoba bercanda. "Nggak usah sok ngalihkan perhatian, deh, Nir! Lihat ekspresi teduh itu, wajah kamu yang menatapnya penuh pengharapan."  "Nggak, kok!" Aku mengelak. "Sepuluh tahun sahabatan sama ...