Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

Terima Kasih

Lelaki itu mengenakan topi yang kini tak lagi dibuatnya miring, melainkan tegak simetris dengan sisi tengah wajahnya. Terlihat lebih rapi. Tampak berbeda dari biasanya yang selalu berantakan.  Lelaki itu, tidak lagi kukenali karena cinta, melainkan sebab telah melegakan hati sendiri.  Betapa indah rasanya, telah mampu berterima kasih pada diri ini, untuk tetap menjaganya hanya dalam doa, tanpa perlu menyinggung secuil apapun bagian dari tubuhnya. Dia pantas untuk rapi, menata ulang hidupnya, tanpa perlu ada aku.  Terima kasih...  Tambung, 20:14 WIB

Kita Bicarakan Selamanya

Aku tidak berjanji menyertaimu sampai akhir, barangkali dirikulah yang meninggalkanmu lebih dulu nanti. Namun, mari kita saling membicarakan apa pun selagi mampu menikmatinya bersama. Menjadi pendengar yang sabar satu sama lain.  Alasanku memilihmu dulu bukan sekadar karena cinta, bukan karena momentum indah yang dilalui berdua. Keyakinanku terlahir dari hati. Aku percaya, kamu mampu menggenggamku dalam situasi apa pun. Mari kita saling memeluk selagi mampu melampaui segalanya bersama.  Masa-masa sulit ini, ketidakmudahan ini, semuanya. Mari kita bicarakan selamanya, semampu kita masih dapat bersama.  Tambung, 03:40 WIB

Recall

Bagaimana mungkin kusebut namamu lagi sementara wajahmu di usia ini tak bisa kudeskripsikan dengan benar? Basi-basi pun, hanyalah kalimat 'apa kabar' yang terlontar. Sekadar mampu membingkai siluetmu yang bertubuh kurus itu?  Menemukan manusia sepertimu, setelah sepuluh tahun kita tak pernah lagi berhadapan, rasanya tak pernah terpikir olehku. Dia, seperti dirimu yang menjelma padanya. Meski banyak hal berbeda, jelas pula tidaklah sama, aku meyakini bahwa ketulusan ini mirip dengan bagaimana dulu kucintai kamu.  Kamu, seperti memanggilku lagi, lewat dirinya. Kamu, menyentuh ingatanku tentang kita dulu, lewat dirinya.  Jangan-jangan, malam ini kita sama-sama saling mengingat segalanya? Mungkinkah? Tambung, 22:45 WIB

Tentang Luka

Kupikir, luka hanya memberi kepedihan. Lebih dari itu, hadiahnya adalah ketangguhan sebab belajar untuk terus bertahan. Luka tidaklah sejahat itu. Di balik perjalanannya yang menyakitkan, ia hadir sebagai guru terbaik yang hadiahnya berupa kesabaran. Aku menjadi lebih kuat.  Seseorang yang menyakiti, ah tidak, mereka tak pernah berniat demikian. Kitalah yang menganggap bahwa manusia terlalu jahat. Hati yang tak jernih, lantas melimpahkan alasan kesedihan karena perilaku orang lain.  Mereka tidaklah jahat. Mereka datang untuk mengajak kita belajar menangis, sekaligus tegak pada prinsip untuk melepaskan.  Maaf, jika selama ini aku melabeli dirimu sebagai orang jahat itu. Kini tidak lagi. Apapun yang kamu lakukan, semata memang karena kamu menghendakinya, bukan karena berniat buruk padaku.  Luka dan kamu, adalah sepasang peri terbaik yang mengajakku perlahan menyadari, bahwa hidup adalah tentang berserah dan mengikhlaskan.  Tambung, 04:55 WIB

Menyingkir Pergi

Aku menyingkir agar luka ini perlahan pulih. Mengesampingkan diri darimu adalah pilihanku sendiri. Tak perlu lagi mencari hingga menemui, sebab sejatinya kamu tetap ada di sini, dalam doa baik yang selalu terucap.  Aku memang bukan orang paling suci yang tanpa cela, namun memutuskan bertanggung jawab atas diri sendiri adalah pasti. Biarkan kita baik-baik saja, sambil baik-baik pergi, baik-baik menyingkir. Bukankah akan lebih indah bila mengakhiri dengan kesadaran penuh? Aku tidak pergi kemana pun, hanya menjeda keberadaanku dari kamu, menjauh terlebih dulu, hingga kupastikan menatapmu lagi dengan perasaan yang sudah ku normalisasi. Terima kasih... Untuk setiap momentum indah dan bahagia yang memberi warna unik tersendiri.  Kamu berhak bahagia... Aku pun berhak menjalani hidup tanpa pura-pura.  Duko Timur, 22:51 WIB