Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

Berbincang Hingga Dini Hari

Obrolan ini makin serius saja. Kita tak lagi bicara soal diri sendiri, melainkan banyak pasang mata. Kita tak lagi mengupayakan senyum sendiri, melainkan tawa dari banyak kepala. Kita, sudah saatnya.  Masih kuingat saat bayi pertama kita lahir dan terbesit sebaris kalimat dalam pikiranku, bahwa dia adalah pemersatu. Dia yang membuatku harus serius dengan masa-masa hidupku sejak saat itu. Dia yang membuatku tak boleh main-main lagi dalam mempertimbangkan sesuatu.  Kini, mereka sudah tidak lagi satu. Bayi-bayi lain terlahir dan menggenapi. Kamar tidur kita menjadi ramai sebab terisi lebih dari hanya satu anak saja. Kita terlalu berbahagia untuk merayakan ini setiap hari. Aku dan kamu menjadi selalu membicarakan hal-hal hingga dini hari. Terima kasih, itu saja yang ingin kuutarakan. Atas idemu untuk senantiasa memperjuangkan. Atas sikapmu untuk senantiasa bertanggung jawab. Atas semua yang kamu upayakan untuk senantiasa bertahan.  Kita sudah sejauh ini. Maaf, bila seringkali...

Ah, Bodoh Sekali

Lantas apa lagi yang harus kulakukan bila menjadi sempurna untukmu saja tidak cukup? Ah, bodoh sekali. Rupanya bukan aku yang kau harapkan.  Lantas apa lagi yang harus tak kudengarkan bila menuruti kemauanmu saja tidak cukup? Ah, bodoh sekali. Rupanya bukan pelukku yang kau rindukan.  Diam-diam langkahku menuju padamu tanpa suara, agar kau tidak terganggu dan tak menyadari betapa cinta ini terlampau besar.  Ah, bodoh sekali. Rupanya upayaku untuk tak mengusikmu pun tak berbuah manis.  Kamu tetap saja mengharapkan hal lain, bukan kesempurnaan yang kutunjukkan selama ini. Ah, bodoh sekali....  Tambung, 14:22 WIB (Inspiration: Bernadya - Kata Mereka Ini Berlebihan)

Perasaan Ini

Aku takkan marah atas datangnya perasaan ini Namun, aku akan memprotes diri sendiri bila sampai berbuat lebih padamu Aku takkan menyesal memiliki perasaan ini Namun, aku akan menyumpahi diri sendiri bila sampai melangkah jauh terhadapmu Aku bukan siapa-siapa bagi kamu Dan, rasanya juga takkan pernah menjadi siapa-siapa Hanyalah helai daun kering dari ribuan dedaunan gugur yang diterpa angin Demikian adanya, nyaris tak dapat diperhitungkan Aku takkan berupaya keras mengusir perasaan ini Namun, aku pun harus mampu menempatkan koordinatku hingga tidak dekat denganmu Bila kamu hendak tahu apalah alasannya, tentu saja kamu pun mudah menjawabnya Kita adalah sepasang (kita) yang melengkapi orang lain Aku bukan denganmu, kamu pun bukan denganku Tambung, 14:05 WIB

Saya Tidak Berjanji Untuk Selalu Mengingatnya

Saya tidak berjanji untuk selalu mengingatnya. Namun, saya juga tidak berjanji untuk melupakannya begitu saja. Jika dibilang perih, tentu. Bahkan, seringkali mendadak meneteskan airmata tanpa sengaja. Entah apa karena redaksinya yang menyakiti, atau manusia itu yang memang tak henti mencaci. Di bagian mana yang paling sakit, yang jelas hinaannya tidaklah sama dengan kenyataan.  Akan tetapi, membela diri pun terasa tidak berarti. Saya tidak ingin membaikkan diri sendiri, lalu berlagak sebagai korban dan menjatuhkan kesalahan padanya.  Saat ini, saya hanya berharap, hinaan itu kembali pada dirinya.  Dia merasakan apa yang dihinakan dari mulutnya.  Dia melalui hal yang buruk yang dilontarkannya.  Tambung, 03:54 WIB

Come and Go

Mendadak terbangun karena kamu datang, dalam bentuk ingatan Seketika saja terjadi tiba-tiba, dalam bentuk kerinduan Tidak ada yang istimewa, semua berjalan sederhana Sekaligus sakitnya pun, selalu saja sama Aku telah mencari ragam cara untuk benar-benar sembuh dari segalanya Ketika ramai, kamu pergi, tidak ada ingatan apa pun yang hadir Menjalani hari-hari seperti biasa penuh bahagia Ketika sendiri, itulah situasi yang paling berbahaya Kamu datang, bukan hanya sebagai ingatan Sekaligus menyesakkan, sampai cemas bagaimana harusnya memeluk hati sendiri Terasa sakit, dan aku tahu... Rupanya penyakitku belum juga mereda. Ditulis 08 Desember 2024 Tambung, 23:48 WIB

Lagak

Aku hanya akan kalah bila terus mendengarkan lontaran orang yang tidak menyejukkan. Aku hanya akan sakit bila tetap saja membuka telinga dari ucapan-ucapan yang tidak baik.  Aku menyerah saja... Menutup telingaku dengan sepasang tangan, lalu meminta mata ini untuk mengatup sendiri. Diam. Tidak berkomentar apapun. Biarkan mereka bicara hingga lelah, dan aku akan terus melangkah tanpa perlu menghiraukan lagi.  Kadang, aku merasa perlu tetap bersembunyi dari keramaian, untuk diam-diam menangis. Namun, aku sadar bahwa manusia memang perlu menangis. Sesekali. Tidak apa jika dia memperlihatkan tangisannya, tanpa perlu terus berpura-pura tertawa.  Jadi, bolehkah jika aku tak sembunyi lagi?  Dari rasa sakit atas lontaran buruk itu? Aku lelah, bila senantiasa tertawa dan berlagak baik-baik saja.  Tambung, 00.00 WIB

Perlahan

Setiap hari aku menyadari bahwa kamu tak bisa termiliki, namun setiap hari pula aku menyadari perasaan ini masih ada: aku menyayangimu. Setiap hari aku berpikir bagaimana harusnya menghentikan ingatan dengan cepat, memulihkannya kembali normal, supaya bukan kamu saja yang kupikirkan, melainkan hal yang lebih penting.  Namun, kamu juga cukup penting untuk tidak terlupakan. Setiap hari aku berharap tidak akan ada lagi kecemasan yang membuatku harus mencarimu, meski sesungguhnya kamu tidak apa-apa. Aku khawatir, jangan-jangan kamu sengaja pergi. Padahal, pergi itulah yang seharusnya kita lakukan berbarengan. Perlahan...  Ketika aku mulai tidak memberatkan apapun yang hati rasakan, nyatanya lega ini kian lahir. Meluruhkan ingatan, kecemasan, juga kekhawatiran.  Perlahan...  Ketika aku mulai mengikhlaskan untuk menerima apapun yang Tuhan takdirkan, nyatanya lega ini kian lahir. Melupakan betapa pilu rasanya mencintai sekaligus merindukanmu sepanjang waktu. Perlahan... Aku...