Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Sepagi Ini Aku Sudah Merindukanmu

Waktu terus berjalan, namun pikiranku tidak kemana-mana. Haluannya tetaplah sama, mengingat kamu.  Aku sendiri cemas pada situasi yang tak mampu kukendalikan ini, saat harus mengulas senyum, barisan canda dan tawa, juga tuturmu yang beraroma cinta.  Barangkali aku memang sudah kalah pada janji sendiri untuk tak lagi merindukan kamu.  Padahal, pagi sedang sibuk-sibuknya. Padahal, mentari sudah panas-panasnya. Padahal, angin tak lagi mendesau ramah. Aku khawatir pada isi kepala sendiri, betapa penuh dengan siluetmu saja.  Kamu, apa kabar?  Bukan aku tak berani bertanya langsung, hanya tak ingin membuatmu dalam masalah. Ketika aku masih sendiri, kamu bahkan lebih dari sekadar berdua dan bersama. Hidupmu sudah sempurna.  Aku juga meminta untuk tak lagi merasa bersalah, pada hidupku yang jelas bukanlah tanggung jawabmu. Aku bahagia, mengingatmu dengan caraku sendiri. Memaknaimu dengan solusiku sendiri.  Sepagi ini, aku memang merindukanmu. Namun, saat ini a...

Menukar Belulang

       Aku menjadi tahu rasanya menukar tulang rusuk ini menjelma sandaran kuat bagi Nirwana, puteriku. Setelah kami memutuskan untuk menjalani hari-hari tanpa ayahnya lagi.       Sungguh, aku sudah memaafkannya. Tak berguna bila harus menabung dendam yang pada akhirnya akan meledak sebagai kebencian tak terperi. Nir yang selalu menyadarkanku bahwa tidak bersama ayahnya, bukan bermakna tak bisa mengampuni salahnya.          Setelah hidup dan tinggal hanya berdua, maka satu persatu rencana masa depan mulai direparasi ulang. Aku menyusun kembali ibarat target kerja yang akan kukerjakan sendiri pasca berpisah dari mantan suami.      Beberapa hari lalu pun, dia sempat menelepon, "kamu apa kabar?" tanya Mas Pras dengan nada datar namun terasa begitu berat.      "Aku baik, Mas." Tanpa perlu bertanya balik, kujawab saja singkat.      "Nir gimana?"      "Baik." ...

Sebaris Doa

      Sebaris doa kuterbangkan ke langit hanya demi mengingatmu dengan baik. Tak ada cara yang lebih indah dari ini untuk mengenangmu dalam-dalam.     Sepasang mata cokelat dan rambutmu yang legam, juga hati bersabar, membuatku mendadak teringat bagaimana prosesi kepergianmu terjadi beberapa tahun silam. Kamu menghilang, bukan karena diterpa badai, melainkan pergi sebab keinginan sendiri untuk meninggalkan.      Jika bukan karena kehilangan, aku takkan pernah tahu kisah kedua yang terjadi selama kita saling mencintai. Rupanya, kamu memiliki banyak perasaan, bukan untuk mencintaiku dan keluarga kita, melainkan demi Gayatri. Perempuan yang kau perjuangakan hingga rela melupakanku dan anak-anak.      Aku mengerti, Gayatri punya sepasang lesung pipi yang cantik. Namun, aku juga berani bertaruh bahwa cinta di hati inilah yang paling palung untukmu. Aku mengerti, Gayatri berumur lebih muda dari istrimu yang sudah sedewasa ini. Namun, aku ...

Mini Cerpen - Ayah yang Terbaring

Musim sedang terik-teriknya. Setangkup roti hangat yang disandingkan dengan secangkir kopi menambah tempertatur udara semakin hangat. Aku sedang duduk di samping Ayah, yang terbaring sudah dua tahun lamanya.  Ayah....  Sakit yang membuatmu harus bersabar ini seakan menaikkan kompetensi kesabaranku juga. Harus buru-buru cepat pulang demi mengganti diaper yang kau gunakan. Tak pernah lagi bermain dengan teman-teman di sore hari sebab khawatir akan Ayah bila memerlukan bantuan.  Ayah... Hari ini adalah kesekian waktu dari kita yang selalu tinggal berdua. Hari dari sekian masa yang dihabiskan bersama berbalut ketabahan. Aku sungguh belajar banyak hal. Dari satu sosok yang mungkin hanya mampu berbaring, namun mengaliri ribuan cara untuk berkompromi dengan hati sendiri.  Cepat sembuh.... Ayahku.... (Mini cerita ini ditulis saat kegabutan di ruang guru, hari ketiga sebagai manusia baru di SMAN 2 Pamekasan.) Salam, Kiki Lathif.  07 Mei 2024, 13.20 WIB