Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024

Maha Setia

  Sebenarnya, nyaris setiap orang yang melangkahkan napasnya, pernah merasa ragu. Entah ragu untuk memutuskan masa depannya, cita-citanya, mengejar mimpi atau tidak, memilih keyakinan itu atau yang lainnya, mencintai atau membenci dan menghindarinya. Semua keputusan yang sempat membuatnya bimbang.  Bahkan, sebagian orang pun terlampau jauh menjejalkan kakinya pada makna yang salah, hingga jatuh dan terjerembap dalam. Ada yang memilih kembali, ada yang tak henti menahan sedih dan bertahan dalam kondisi yang sama.  Belakangan ini, lantas pernah berpikir, bahwa sebenarnya kita tetap harus setia pada satu Tuhan: yang Maha Tahu atas kerisauan, Maha Menolong ketika jatuh, Maha Melimpahkan ketenangan dikala rapuh, pun Maha Memberi bahagia yang tidak ternilai.  Sebenarnya, Tuhanlah satu-satunya jalan pulang. Tidak ada tujuan lain selain Dia.  Nyatanya, berharap kepada selain Dia hanyalah memberikan kecewa.  Tuhan, jika bukan karena Kasih-Mu, mungkin aku sudah tak t...

Waktu Telah Jauh Berlalu

Warna itu sudah berbeda. Dulu dan kini, masih menggenggam warna yang cerah, namun telah berbeda peran dan makna.  Aku mengisi hari-hariku dengan kamu, dulu. Aku mengisi hari-hariku dengan dia, kini.  Hatiku sama penuhnya, cintaku sama tingginya, semestaku sama indahnya. Namun, untuk momentum yang berharga sama pula, izinkan aku mengingatmu lewat tulisan ini.  Kamu yang dulu meneleponku tepat di pukul 12 malam. Mengucapkan selamat ulang tahun dengan manis dan lirih. Kamu yang mengudarakan doa tepat di pukul 12 malam belasan tahun lalu. Andai saja waktu bisa kutarik mundur, akan kutahan detik itu, untuk mengemasmu dalam diam, agar kau tidak kemana-mana. Apalagi menghilang tiada kabar, hingga saat ini.  Sekarang, aku sudah lebih terbang dari tahun lalu. Sayapku sudah membentang dan sepasang utuh. Hidupku dilengkapi dengan lelaki yang kauharapkan dapat mendampingiku penuh cinta.  Doamu terkabul, A'.  Ternyata aku baik-baik saja tanpa kamu, meski sisi lain dari ...

Bukan Puisi Cinta (Untuk Tris)

Tris, aku memikirkan orang lain malam ini.  Kemana bayangmu yang selama ini duduk tenang?  Kenapa berganti dengan siluet wajah lain yang justru bertahan di benak? Tris, aku menginginkan orang lain malam ini.  Kemana janji yang kita rajut dulu? Kenapa harus berganti dengan ingkar yang berkali-kali? Tris, aku mengerti hanya kamu tujuan awal dan terakhirku.  Aku sangat memahami betapa dulu kita berikrar untuk saling setia.  Namun, Tris, izinkan malam ini saja aku gelisah karena seseorang yang belum kukenal lama. Izinkan, malam ini saja.  Tris, aku berani bersumpah untuk tetap di sisimu. Melawan ragu ini sendiri. Sampai kembali yakin bahwa kamulah satu-satunya sandaran paling nyaman.

Tetap Memilih Pulang

Beberapa hari lalu, 03 Agustus 2024, saat tiba sekitar pukul 4 sore di SPBU Utama Raya, mendadak terpikir untuk tidak melanjutkan niat bermain di pantai jelang senja, melainkan berlari menuju tepian jalan menunggu bus datang. Dalam kepalaku hanyalah satu: AKU HARUS PULANG! Kedua mata ini sempat berlinang, memikirkan apakah masih ada waktu di kemudian hari untuk menatap sepasang malaikat yang telah membesarkanku? Oleh karenanya aku tetap memilih pulang, saat itu juga.  Terasa sangat tidak sabar menunggu bus yang tidak juga datang. Sementara sudah membuat janji dengan adik, untuk dijemput di titik tertentu, pun tak usah mengabarkan pada malaikatku, bahwa anak gadis yang kini jugalah seorang ibu, akan pulang tiba-tiba.  Entah bagaimana harus menjelaskannya. Rindu sebab keadaan kami yang tak lagi tinggal bersama membuat sedikit saja kesempatan bertemu begitu bermakna. Aku merasa kesempatan itu tak boleh disia-siakan, sekalipun tak sampai 24 jam bertemu dan menatap mereka, juga han...