Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Jauh Itu Baik

Kita adalah sepasang hati yang tak dapat saling bertumpu. Semua berakhir sebagai tatapan penuh makna, tanpa perlu mendekap erat.  Aku menyayangimu, mendoakan hal baik-baik buatmu, memikirkanmu lama-lama, namun tidak lebih dari itu. Semua sudah berbeda.  Apa kabar punggungmu yang hangat itu? Apa kabar sepasang kaca mata yang menutupi bening lensamu? Apa kabar rambut lurus dengan tinggi nyaris 180 cm itu? Apa kabar langkahmu yang tanpa suara itu? Apa kabar sepasang tangan yang dulu pernah menuntunku menyeberang jalanan ramai?  Aku sungguh ingin mengingatmu malam ini, tanpa perlu bersalah dan berdosa.  Aku sungguh ingin memeluk ingatan tentang kita malam ini, tanpa perlu merasa memiliki kamu.  Aku sengaja pergi, agar kamu tidak bimbang.  Dulu, kamulah yang memintaku menjauh. Kamulah yang membuatku membenci semua keputusan aneh itu. Kamulah yang merasa tak pantas melanjutkan hubungan kita.  Aku membenci semua pendapatmu. Sebab jatuh cinta padamu tak perlu ...

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Engkau (Satu-satunya)

  Aku menitikkan air mata tanpa perlu membantah perdebatan soal ‘pulang’ lagi. Aku memang sudah seharusnya pulang ke pemilikku sekarang. Tanpa membawa apa pun lagi, kecuali kepasrahan.   Sudah lama rasanya tidak terbaring di tempat yang semestinya. Di dekat Engkau, Rabb.  Maka sebelum aku benar-benar pulang dan melangkah dari awal, izinkan kutuang kembali luka dan kesedihan di hati ini, biarkan dia tinggal di titik yang tak boleh lagi kurangkul.   Tuhan, rasanya mencintai seseorang begitu dalam itu sangat membahagiakan. Lebih-lebih bila berbalas. Tak pernah menduga bahwa kisah tentang kecintaan ini akan berakhir hanya dalam hitungan sepuluh tahun saja.   Aku pikir, dia sama setianya seperti Engkau. Ternyata salah. Sama sekali tak ada yang bisa menandingi kesetiaan-Mu padaku. Tak satupun manusia.    Aku menelan luka perlahan-lahan, pahit yang teramat dalam, namun tetap saja kutelan hingga hati ini rapuh juga. Mulai dari lidahnya yang kelu...

Siang yang Hening

Terik sudah berlalu Tersisa desau angin dan derak udara yang tak lagi membakar Menurun sudah temperaturnya  Sore sesaat lagi datang Kami masih di sini Tertidur lelah lalu pulas Belum lagi ingin beranjak Meski waktu mengajak untuk pulang Kami masih di sini Terbaring ingin lepas penat Menikmati tenang  Sambil menunggu cahaya meredup Ketika itu, kami akan kembali pada 'rumah' Pulang... Untuk tenang yang sesungguhnya...  Perpustakaan SMADA, 13.34 WIB