Langsung ke konten utama

Takjub Dengan Kemajuannya





Minggu lalu, tepat di tanggal 17 Desember 2023, aku menjadi saksi banyak sekali kemajuan yang membuat takjub dari perkembangan STAIFA Pamekasan. 

Ah, iya. STAIFA adalah Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan, yang satu yayasan dengan tempatku mengajar. Saat itu aku mendapat kesempatan untuk bergabung dalam acara penting wisuda pertama dari kampus tersebut. 

Lebih dari empat puluh orang mahasiswa yang diwisuda, puluhan ucapan selamat berbaris rapi di pelataran jalanan menuju kampus, panggung yang megah, dekorasi yang indah, segenap panitia yang begitu bersemangat. 

Aku di sana, bukanlah siapa-siapa. Berada di sisi samping, berdampingan dengan pembawa acara juga satu grup vokal yang juga memeriahkan. Ah, mereka ini cepat sekali belajar. Berada dengan anak-anak yang dulunya masih kukenal sebagai pelajar sekolah, hari itu mereka menjelma putri-putri Kartini berbalut kebaya berwarna mirip unsur aurum (:Emas). 

Beberapa hal yang kusaksikan telampau membuat haru. Orang-orang yang sudah bekerja keras demi berlangsungnya acara lancar hingga usai juga terlihat jelas dari wajah mereka akan kebanggaan atas itu semua. Sungguh, aku tidak menduga sebelumnya, bahwa Al Falah akan megah seperti apa yang kulihat dalam momentum tersebut. 

Barisan wisudawan dengan toga mereka, para rektor dan senat, jajaran dewan serta keluarga pengasuh, juga tamu kehormatan.

Ya Tuhan, benar sekali. Bagiku, dua sosok tamu kehormatan itu adalah tokoh masyarakat yang saat ini amat terkenal, H. Khairul Umam, alumnus sekaligus pengusaha sukses dermawan. Juga, (aku tarik napas dulu ya sebelum menulis namanya)... Bapak Dr. Mohamad Jasuli, M.KPd. 

Boleh aku sedikit cerita?

Beberapa waktu sebelum beliau sakit, kami pernah duduk dalam satu meja dan aku berucap, "Andai Bapak sudah benar-benar menjadi rektor dari kampus STAIFA nanti, maka barangkali Bapak tak akan fokus memimpin sekolah ini lagi." 

Beliau tersenyum. Lalu, aku melanjutkan, "Menurut saya, yang bisa jadi pengganti Bapak adalah (kusebutkan nama Bapak Saleh yang saat ini benaran jadi kepala sekolah SMA Al Falah). 

Siapalah yang menduga, usai kami menyelenggarakan Pisah Kenang kelas akhir di Juni 2022, beberapa hari kemudian beliau mendadak tak mampu menggerakkan separuh sisi dari tubuhnya. Padahal, banyak hal yang diurusnya, termasuk akreditasi SMA dan STAIFA yang tinggal hitungan bulan. 

Seketika beliau harus dirawat, dan hingga 18 bulan terhitung hingga hari ini, beliau berangsur pulih meski saat acara wisuda kemarin terselenggara, berada di barisan tamu kehormatan. 

MasyaAllah, bersyukurnya banyak sekali, daripada harus bertanya pada diri sendiri, mengapa bukan dirinya yang mewisuda mahasiswa? Tidak! Tidak! Ketika itu lekas kutepis perasaan aneh tersebut cepat-cepat. Sebab, adanya Bapak Jasuli lagi dalam momentum penting di yayasan adalah kebahagiaan besar yang harus disyukuri, terlepas dari bagaimana terbatasnya kondisi beliau untuk bergerak dan berganti posisi. 

Kita, berdoa sama-sama, agar beliau semakin membaik dan berkumpul dalam dunia akademis lagi setelah ini. 

Lalu, hal takjub berikutnya yang membuatku tercengang adalah kedermawanan dari pengusaha sukses sekaligus tokoh terkenal sekarang, H. Khairul Umam. Maaf, aku tak ingin menyingkat namanya menjadi panggilan pendek, biarlah beliau terhormat dengan nama indahnya yang lengkap terucap. Hehe... 

Memang, beliau orang kaya. Namun, kedermawanan itu tak semua orang kaya memilikinya. Nominal uang yang diberikan pada tiga wisudawan terbaik masing-masing prodi, satu unit sepeda motor untuk wisudawan terpilih, juga apresiasi tanpa pikir panjang yang langsung memesan batik khas Al Falah, produksi mahasiswa sendiri. Gila sih! Belum lagi sebaris demi baris sedekahnya yang lain. Aku yakin, beliau bakal susah bangkrut karena sedekahnya yang gila-gilaan itu. 

Dari sekian sosok yang dengan berani kutatap di sana, tetaplah satu figur beraura cerah yang kerap membuatku menundukkan kepala bila beliau melangkah. Saat ini, beliaulah pengasuh yayasan Al Falah, K.H Afifuddin Thoha. Wah, sungguh melihat beliau selalu membuatku teringat pada pengasuh PP. Nurul Jadid Paiton, KH. Zuhri Zaini. Sosok cerah keduanya seakan bersaudara. 

Kita, doakan sama-sama lagi, yuk! Untuk para orang-orang baik di Al Falah, pendiri, pengasuh, para akademisi, juga donatur super dermawan agar selalu Allah limpahkan kebaikan. 

Eh, terima kasih juga untuk tim Paduan Suara Mahasiswa (PSM) STAIFA Pamekasan. Kalian kayaknya harus bikin nama grup nih biar makin keren...


Sudah ya, nulisnya cukup sekian. Aku tuntaskan sampai sini. Besok, kita sambung lagi dengan tulisan lain di blog yang baru kulahirkan ini. Blog lama keblokir entah kenapa. 


Terima kasih, pembaca.... 


Duko Timur, 9.59 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.