Langsung ke konten utama

Bagaimana Rasanya Menjadi Tuli?

Baru-baru ini, saya sedang menonton drama bertemakan cinta dalam sunyi. Bukan berarti suasana latar lingkungannya begitu sepi, namun salah satu tokoh utamanya adalah seorang penderita tunarungu. 

Saya jadi tertarik bertanya pada Chat GPT, soal bagaimana rasanya menjadi tunarungu. Dan, ini beberapa jawaban mesin pintar itu yang sudah saya singkat. 


Rasanya menjadi tuli atau tunarungu adalah pengalaman yang sangat pribadi dan kompleks. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk cara mereka berkomunikasi, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan merasakan dunia di sekitarnya.

Penting untuk diingat bahwa setiap orang yang mengalami ketuli-tunan mungkin memiliki pengalaman yang unik, dan respon terhadap kondisi ini dapat bervariasi. Beberapa orang mungkin merasa terisolasi atau kesulitan berkomunikasi, sementara yang lain mungkin mengembangkan cara alternatif untuk berkomunikasi, seperti menggunakan bahasa isyarat atau alat bantu pendengaran.

Penting untuk mencatat bahwa kemajuan teknologi telah membawa banyak perubahan positif bagi komunitas tuli atau tunarungu, seperti perangkat bantu dengar dan teknologi bantu lainnya yang membantu meningkatkan kualitas hidup mereka.


Begitulah kira-kira jawaban si AI pintar. 

Hmm... Kadang, di kondisi yang begitu ramai seperti saat ini, orang-orang bukan hanya menginginkan tidur nyenyak, tetapi juga menutup telinga dari komentar-komentar menghakimi, menjatuhkan, jahat, terdengar kurang pantas, atau lebih buruk lagi. Dan, menjadi tuli tidaklah semengerikan mereka yang dapat mendengar apa saja. 

Sebagaimana yang kita tahu bahwa netizen negeri ini teramat pandai menulis komentar sedemikian panjang di media sosial. Semula hanya satu  dua orang yang suka, netizen berpengaruh mengembangkannya ribuan kali lipat hingga follower publik figur bertambah. Sebaliknya, skandal sederhana atau yang tidak terekspose media, dalam sepersekian detik menjadi luas diketahui khalayak.

Dan, di momentum itu, sepertinya kita butuh menjadi penderita tunarungu. 

Teman-teman, kegabutan saya malam ini sebenarnya tidaklah bermakna bagi kalian yang mungkin kelak membaca postingan ini. Tetapi, dari drama korea itu saya belajar, bahwa tuli tidak seburuk yang orang pikirkan, meski tidak pula ini hal terbaik yang diidamkan semua orang. 


Selamat malam... 

Pamekasan, 9.21 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.