Langsung ke konten utama

BIOETANOL, Alternatif Masa Depan Pengganti Bensin!



Semakin hari istilah Bioetanol akan menjadi tidak asing di telinga masyarakat. Senyawaan organik yang sejak bertahun-tahun lalu diteliti dan perlahan dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif ini, pada akhirnya digunakan sebagai pengganti fungsi bensin untuk kendaraan mesin. 

Menggalang peningkatan produksi bioetanol di daerah, diharapkan mampu mengurangi konsumsi premium untuk sebagian besar wilayah di Indonesia. Produksi yang banyak dari daerah penghasil bioetanol tersebut dapat menjadi sumber ekspor untuk daerah-daerah lainnya di negeri ini. 

Berikut beberapa kelebihan bioetanol:
1) Aman digunakan sebagai bahan bakar, titik nyala yang tiga kali lebih tinggi dibandingkan bensin. 
2) Emisi hidrokarbon lebih sedikit. 

Meski demikian, bioetanol masih memiliki kekurangan yang dalam pengembangannya perlahan dioptimalisasikan. Kekurangan tersebut misalnya:
1) Pada mesin dingin, lebih sulit melakukan starter. 
2) Bietanol masih mungkin bereaksi dengan logam Magnesium dan Alumunium. 

Indonesia adalah negara yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan sangat luas. Bahan baku produksi bioetanol sangat banyak tersedia seperti: bahan yang mengandung glukosa tinggi misalnya tebu, tapioka, kentang manis, dan sorgum manis; ubi-ubian sebagai sumber pati yang tinggi; jagung; biji gandum; sagu. dan lain-lainnya; juga dapat memanfaatkan bahan berlignoselulosa seperti limbah serat kayu, jerami, tongkol jagung, serta limbah domestik lainnya. 

Sudah banyak dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan limbah pertanian menjadi bioetanol. Hal ini diharapkan kelak dapat memberikan dampak positif yang luas untuk meyediakan bahan bakar alternatif pengganti bensin, guna mengurangi pula konsumsi masyarakat terhadap bahan bakar fosil yang sulit terbarukan. 

Nah, yuk sebagai generasi muda, mari pelajari bagaimana mekanisme proses pembuatan bioetanol. Mulai dari melakukan percobaan sederhana skala kecil, sampai memberikan sumbangsih ide baru yang berdampak besar. 

Semangat...! 


Pamekasan, 4.55 am 
(Produktif menulis di Jumat pagi).

Salam...


Info sumber gambar:
Link https://jogja-training.com/training-pembuatan-bioetanol-generasi-kedua/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cemas

  Aku selalu ingin mengutarakan rindu, namun cemas dengan ketidakpercayaanmu.  Selalu ingin mengatakan mau memelukmu, namun cemas dengan kenyataan. Tak pernah segila ini. Bahkan tak ada satu pun alasan mengapa hati memilih kamu. Aku selalu ingin bertanya apa kesibukanmu sekarang, namun takut mengganggu. Selalu ingin berbincang lewat udara, namun takut kau merasa tak nyaman. Tak pernah sebodoh ini. Bahkan sering kupukuli kening sendiri, mengapa harus mengingat kamu. Kamu perlu tahu, melebihi dari penjelasan apa pun, inilah caraku menyayangimu. Ditulis, 20 Oktober 2024 Tambung, 20:37 WIB

Duluan ke Surga, ya...

Senin, 17 Juni 2024 adalah pertama kalinya kami mengirimkan doa sekaligus harapan ke surga, bersamaan dengan raya-Nya, Idul Adha. Seekor sapi cukup usia, meski tidak terlalu gagah, telah kami persembahkan kepada-Nya. Bersyukur, sembari berharap tahun depan bisa kembali mengulang hal yang sama, bahkan lebih dimampukan lagi untuk menambah jumlahnya.  Entah bagaimana harusnya saya menulis ini, namun saya berpikir bahwa kemarin adalah situasi yang cukup mengharukan. Menyaksikan seekor sapi yang tadinya berdiri tegak, lantas membaringkan dirinya seakan siap diantar menuju Tuhan. Sepasang mata yang katanya beringas, menjadi teduh dan terpejam selepas bilahan pisau menyayat jalan napasnya.  Bersyukur sekali... Tuhan beri kesempatan ini.  Semoga di tahun berikutnya, kesempatan itu kian menambah keikhlasan kami juga. Amin... Tambung, Pamekasan.  21.31 WIB

Setelah Menjadi Guru

Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa senyuman yang bahagia itu bermakna bagi mereka. Anak-anak yang datang dengan mimpi berbeda, namun tetap pada titik yang sama: juga bahagia. Setelah menjadi seorang guru, aku menyadari bahwa perasaan kami tidaklah penting, yang prioritas adalah keriangan mereka. Anak-anak, yang duduk di dalam kelas, berharap belajar penuh senang.  Setelah menjadi seorang guru, aku tahu bahwa pendidikan memang penting, namun memastikan mereka memaknai hidup dengan berbuat baik sebanyaknya, menyampaikan bahwa adalah soal memberi dan mensyukuri, soal menghormati perasaan orang lain, adalah jauh lebih penting lagi.  Kutanggalkan semua kegundahan atas urusan pribadi, agar mereka hanya tahu, bahwa kami bahagia menjadi guru... Tambung, 18:13 WIB.